Warga Desa Cilongok-Banyumas Sambut Positif ‘Desa Cerdas Mandiri Lestari’

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Penetapan Desa Cilongok di Kabupaten Banyumas sebagai Desa Cerdas Mandiri Lestari, binaan Yayasan Damandiri, mendapat respons positif dan sambutan luar biasa dari warga. Adanya sejumlah program pemberdayaan, di antaranya pendirian pabrik pengolahan tepung tapioka dan gula merah, diharapkan akan mampu menggerakkan ekonomi di desa miskin dan terpencil di Jawa Tengah tersebut. 

“Warga mendukung 100 persen program Desa Cerdas Mandiri Lestari dari Yayasan Damandiri di Desa Cilongok. Seluruh warga, yang mayoritas petani juga siap berpartisipasi untuk memajukan desa melalui program ini,” ujar Manajer Umum KUD Utama Sejahtera Mandiri Cilongok, Riyan Hidayat, dalam rapat kerja Desa Cerdas Mandiri Lestari di Yogyakarta, Kamis (11/7/2019).

Menurut Hidayat, program pemberdayaan berupa pendirian pabrik pengolahan tepung tapioka dan gula merah sangat tepat dilakukan, karena sesuai dengan potensi serta persoalan yang ada di desa Cilongok. Dari 2279 kepala keluarga di desa ini, mayoritas berkerja sebagai petani singkong dan penderes kelapa.

Riyani Hidayat, Manajer Umum KUD Utama Sejahtera Mandiri Cilongok –Foto: Jatmika H Kusmargana

Namun di sekitar wilayah desa ini, belum ada satu pun pabrik pengolahan. Sehingga, warga hanya menjual hasil panen dalam bentuk mentah, yang nilai jualnya relatif murah.

“Tentu ini sangat bagus. Keberadaan pabrik pengolahan tepung terigu dan gula merah jelas akan memberikan manfaat luar biasa bagi warga desa. Selain dapat mengurangi angka pengangguran, dan menjadi sumber mata pencaharian warga, keberdaan pabrik juga akan bisa menyerap tenaga kerja dan menjadi alat pemasaran hasil pertanian warga,” katanya.

Sebagai daerah kawasan pertanian, kata Hidayat, setiap harinya desa Cilongok mampu menghasilkan sedikitnya 15 ton gula merah setiap bulannya. Sementara produksi singkong diperkirakan bisa mencapai 10-15 ton per bulan. Sayangnya, hampir semua hasil pertanian itu hanya dijual dalam bentuk mentah kepada para tengkulak.

“Selama ini, hasil pertanian hanya dijual pada tengkulak. Dengan adanya pabrik, diharapkan bisa mengurangi ketergantungan warga pada tengkulak. Karena jika dijual ke tengkulak, harga pasti akan jatuh dan petani merugi,” katanya.

Terkait rencana pendirian pabrik pengolahan tapioka dan gula merah itu sendiri, Hidayat mengatakan, nantinya pihak KUD sebagai pengelola pabrik akan bekerja sama dengan pihak desa. Salah satunya adalah terkait penyediaan tanah kas desa seluas kurang lebih 2 hektare untuk pendirian pabrik. Yakni, berada di dusun Dalawangi.

“Lahan akan menggunakan milik kas desa. Selain pabrik, nanti di situ juga akan dibangun demplot. Peletakan batu pertama sudah dilakukan. Saat ini, sedang dalam proses pembangunan. Semoga tahun ini sudah bisa beroperasi. Sehingga manfaatnya bisa segera dirasakan masyarakat desa,” katanya.

Lihat juga...