SLI BMKG Berhasil Tingkatkan Inklusi Iklim
Editor: Mahadeva
JAKARTA – Upaya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mengaplikasikan keilmuan iklim dalam kegiatan Sekolah Lapang Iklim berdampak pada peningkatan inklusifitas iklim di masyarakat.
Salah satu contohnya adalah keberadaan Sekolah Lapang Iklim (SLI) yang berdampak pada peningkatan panen padi sebesar sembilan persen di demplot SLI Temanggung. Tercatat, ada 80 aktivitas SLI BMKG di 2019 ini.
Kepala Bidang Informasi Iklim Terapan BMKG, Marzuki, menyebut, SLI diinisiasi oleh IPB di site kecil Indramayu pada 2007 silam. “Jadi awalnya ini hanyalah suatu cara bagaimana info BMKG itu bisa dipahami oleh masyarakat. Dan bisa diaplikasikan pada lahan pertanian,” kata Marzuki saat ditemui di Gedung D BMKG Jakarta, Rabu (24/7/2019).
Tapi seiringi berjalannya waktu, kegiatan SLI menarik perhatian USAID. Kemudian, lembaga tersebut memberikan pendanaan dengan target wilayah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Di 2010, kegiatan yang didukung USAID tersebut menjadi berskala besar. “Diikuti pengukuran dengan demplot atau lahan percobaan selama satu musim,” ujar Marzuki.
Dengan kegiatan tersebut, akhirnya muncul indikasi bahwa dengan memahami iklim, akan terjadi peningkatan produksi. Baru setelahnya SLI mulai didanai oleh APBN. Dengan mencakup kegiatan di 11 provinsi yang menjadi sentra pangan di Indonesia. “Jadi di 2011, bersamaan dengan turunnya inpres untuk menanggulangi iklim ekstrem kepada BMKG, kita mulai didanai. Awalnya hanya sekitar Rp3 miliar,” ungkap Marzuki lebih lanjut.
Sistem yang dipergunakan dalam SLI adalah, dengan mengundang kelompok-kelompok tani dari kabupaten-kabupaten sentra pangan. Puncaknya di 2014, dimana saat itu anggaran sudah meningkat sekira 300 persen. “Anggaran untuk mendanai kegiatan di semua provinsi. Kecuali DKI Jakarta. Karena memang bukan provinsi sentra pangan,” ucap Marzuki.
Di 2016, dana SLI cenderung menurun. Sehingga BMKG mengupayakan pendanaan dari pihak lain. Seperti dana CSR perusahaan swasta. “Sebenarnya yang paling tepat itu, yang mengadakan adalah pemda. Kita, BMKG, hanya terlibat sebagai penyuluh saja. Contohnya, di Jambi, sudah tiga tahun terakhir ini, mereka yang mengadakan. Kita hanya sebagai penyuluh,” tutur Marzuki.
Saat ini sasaran kegiatan dari SLI semakin meluas. Tidak hanya di sentra pangan, tetapi lebih kepada komoditas yang dimiliki oleh daerah terkait. Di Aceh digunakan untuk tanaman kopi. Indikator keberhasilan SLI bukan hal yang mudah, karena sifat SLI sebenarnya adalah menjembatani.
“Agak susah kalau ditanyakan indikator keberhasilannya. Karena jika berkaitan dengan produksi maka banyak faktor yang mempengaruhi, bukan hanya iklim saja. Tapi juga kondisi tanah, benih, pupuk. Jadi kita tidak bisa klaim juga kalau keberhasilan produksi itu adalah efek dari peningkatan pengetahuan di bidang iklim,” kata Marzuki.
Keberhasilan SLI tidak hanya diakui secara nasional. Sejak 2014, BMKG dipercaya mengadakan training of trainer oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) untuk wilayah Asia Pasifik.