Semakin Banyak yang Menanam, Harga Lada di Lampung Selatan Anjlok
Editor: Mahadeva
LAMPUNG – Harga lada milik petani di Lampung Selatan mengalami penurunan. Harga lada disebut-sebut anjlok dalam satu tahun terakhir.
Jika sebelumnya harga lada mencapai Rp58.000 per-kilogram, kini hanya berkisar Rp25.000 per-kilogram dalam kondisi kering. Anjloknya harga lada, dipengaruhi kondisi permintaan lada yang saat ini sedang menurun.
Permintaan lada sebagai bumbu rempah berciri khas hangat, mengalami peningkatan saat musim penghujan. Pada masa kejayaan lada di kaki Gunung Rajabasa, harganya mencapai Rp80.000 hingga Rp100.000 per-kilogram. Munculnya sentra perkebunan lada di wilayah lain, seperti di Bangka membuat harga lada di Lampung Selatan anjlok.
Jafar, salah satu pekebun di Desa Taman Baru, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan menyebut, saat panen di Juni bisa mendapatkan sekira 50 hingga 100 kilogram lada. Namun karena harga anjlok, upaya menutup kebutuhan digantungkan pada komoditas lain.

Solusi mengurangi kerugian, saat harga anjlok, Jafar menerapkan pola tanam tumpangsari. Dengan cara tersebut, bisa mendapatkan penghasilan dari komoditas lain. “Harga lada memang anjlok merata di semua kabupaten yang ada di Lampung, namun saya tidak terlalu khawatir, karena masih menanam kakao, cengkih, cabe jamu, kelapa dan buah-buahan lain, dalam satu hamparan kebun,” ungkap Jafar kepada Cendana News, Sabtu (6/7/2019).
Harga lada yang mencapai Rp25.000 per-kilogram dalam kondisi kering juga diakui Sumanto, warga Penengahan lainnya. Ia menyebut, dengan hasil panen sekira 100 kilogram, ia memperoleh penghasilan Rp2,5 juta.
Penurunan hasil diakuinya diakibatkan saat ini penanam lada sudah banyak dilakukan oleh petani. “Selain lada merambat saat ini banyak petani menanam jenis lada perdu tanpa rambatan memakai polybag,” ungkap Sumanto.
Selain faktor petani penanam yang makin banyak, produktivitas lada yang meningkat saat panen raya juga membuat harga anjlok. Kendati demikian, Sumanto mengaku masih memiliki tanaman cengkih dan kakao untuk menopag hidup. Harga kakao di level petani saat ini mencapai Rp23.000 per-kilogram dan cengkih per-kilogram Rp75.000.
Sumanto menyebut, sistem tanam tumpangsari atau multy purpose tree species (MPTS), masih dipertahankan warga. Berbagai tanaman ditanam untuk memberi penghasilan dalam kurun waktu tertentu. Lada dan cengkih sebagai tanaman menahun, memberikan pendapatan setahun sekali.
Sementara, pisang dan kakao bisa dipanen setiap pekan. Sementara tanaman kelapa yang menjadi tempat merambat tanaman lada, bisa menjadi sumber penghasilan bulanan. “Saat ini kebutuhan anak masuk sekolah mengandalkan hasil pertanian namun jika harga anjlok menyusahkan petani,” ungkap Sumanto.
Petani lain, Suyatin, menyebut, tanaman lada bisa tumbuh diantara tanaman lain. Kondisi tersebut membuat petani bisa memanfaatkan lahan untuk beragam tanaman. Sebagai ibu rumah tangga, Dia menanam cabai rawit di sela-sela kebun miliknya.