Pemilihan Bibit, Kunci Masa Tanam Gadu di Lampung Selatan

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Pemilihan benih, menjadi solusi petani di Lampung Selatan (Lamsel) menghadapi kemarau atau musim tanam gadu.

Saat musim tanam gadu, petani memilih bibit padi yang toleran dengan keterbatasan pasokan air. Varietas padi Ciherang, sering menjadi pilihan untuk ditanam saat musim gadu. “Selain tahan kemarau, meski pasokan air kurang, pertumbuhan tetap baik,” tandas Margiyanto, salah satu petani.

Padi varietas Ciherang, juga memiliki masa tanam yang lebih pendek, karena bisa dipanen di usia 90 hari. Dan saar ini, meski sudah kemarau pasokan air masih bisa dialirkan untuk kebutuhan hingga 30 hari setelah tanam. Pasokan air di awal masa tanam menjadi kebutuhan sangat vital.

Untuk membantu pertumbuhan, petani memanfaatkan pupuk organik. Kompos yang merupakan perpaduan kotoran sapi dan kambing, disebut-sebit bisa menyerap kelembaban, sehingga memperlambat penguapan.  “Musim tanam gadu, dengan pasokan air cukup, pemupukan yang baik, sekaligus jenis bibit tepat. bisa menghasilkan gabah kering panen berkualitas,” tutur Margiyanto.

Kebutuhan air selama kemarau dipenuhi petani padi sawah dengan membendung aliran siring kecil untuk kebutuhan selama musim kemarau – Foto Henk Widi

Diprediksi, dengan penanganan yang baik, Margiyanto bisa menghasilkan Gabah Kering Panen (GKP) sekira 2,5 ton. Kuncinya, pada pengaturan pasokan air, dengan proses mengalirkan air rutin pada waktu tertentu akan membantu pertumbuhan padi sempurna.

Petani lain, Sujito, menyebut, pada masa tanam gadu pasokan air menjadi kendala petani. Namun dengan pemilihan benih yang tepat, masih bisa memperoleh hasil produksi maksimal. Air siring alam, yang dibendung menurutnya, masih bisa mencukupi kebutuhan petani. “Lokasi lahan sawah kami dekat aliran sungai kecil, saat penghujan kerap diterjang banjir, padi roboh kadang diterjang material pasir dan lumpur,” papar Sujito.

Di musim gadu tahun sebelumnya kadar air GKP yang diperoleh lebih rendah. Harga GKP saat masa tanam rendengan mencapai Rp3.800 perkilogram. Saat masa tanam gadu, dengan kadar air rendah harga bisa mencapai Rp4.500 perkilogram, sehingga menguntungkan petani.

Lihat juga...