Ombilin Warisan Dunia, Disambut Baik Tokoh Adat dan Agama

Lokasi Unit Penambangan Ombilin (UPO) di Sawahlunto, Sumatera Barat, yang kini ditetapkan menjadi warisan budaya dunia oleh UNESCO-Foto Ant

SAWAHLUNTO – Pemangku adat dan agama di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, menyatakan dukungannya dari sisi adat dan agama mengenai penetapan tambang batu bara Ombilin sebagai warisan budaya dunia (heritage world) oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

Ketua Lembaga Kerapatan Adat dan Alam Minangkabau (LKAAM) Sawahlunto, Adi Muaris Khatib Kayo, mengatakan, dengan penetapan tersebut, adat dan budaya harus semakin dijaga dan dilestarikan. Karena kekayaan sejarah dan budaya yang dimiliki itulah, UNESCO menganugerahi “Kota Arang” Sawahlunto, sebagai warisan budaya dunia.

Adat dan agama disebutnya, sebagai kekayaan yang tidak ternilai di Sawahlunto. Keberadaanya menjadi tameng kuat masyarakat di kota yang telah berusia 131 tahun itu, untuk tidak terkontaminasi efek negatif budaya asing. “UNESCO saja mengakui budaya kita, pengunjung wisatawan yang datang nanti juga, selain melihat destinasi, mereka juga penasaran dengan sejarah dan budaya Sawahlunto. Karena itu, maka jangan sampai kita sendiri di sini yang acuh, yang meninggalkan budaya kita,” tandasnya, Sabtu (13/7/2019).

Menurutnya, seluruh unsur niniak mamak, siap mendukung warisan budaya dunia dari UNESCO di Sawahlunto. Untuk itu, Dia juga meminta, Pemkot Sawahlunto selalu menjalin koordinasi dengan para pemangku adat dan agama. “Tentu yang merumuskan sampai mengeksekusi kebijakan, apakah itu program atau pembangunan fisik, adalah Pemkot. Sementara kami, siap membantu dalam memberikan pertimbangan maupun arahan-arahan sesuai adat, agama dan budaya,” kata Adi Muaris.

Hal senada disuarakan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sawahlunto, H. Darmuis. Menurutnya, status tambang Ombilin sebagai warisan dunia, harus dimanfaatkan untuk hal-hal kebaikan. Penetapan tersebut, tentu harus diiringi dengan upaya menyaring jika ada hal-hal yang tidak baik dan tidak sesuai norma agama dan adat yang berlaku di Sawahlunto, datang masuk ke tengah masyarakat.

“Status warisan dunia dari UNESCO ini kan menyangkut pelestarian sejarah dan budaya pertambangan batubara Ombilin maupun Sawahlunto secara umum. Dalam Islam, menjaga dan melestarikan sejarah juga dianjurkan. Sebab sejarah itu mengandung ibroh (pelajaran) yang harus menjadi renungan kita. Sebab hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, salah satu pengingat tentang hari kemarin ya dari sejarah itu,” tuturnya.

Mengenai peningkatan kunjungan wisatawan, sebagai dampak langsung dari status warisan dunia, Dia mengingatkan, sesuai panduan Islam dalam menyambut tamu, masyarakat diajak untuk saling hormat-menghormati. “Wisatawan itu adalah tamu kita. Dalam agama kita sudah diajarkan bagaimana ramah tamah dan penghormatan menyambut tamu. Selagi masih dalam kewajaran dan mereka juga menghormati, menghargai kita maka tentu kita juga wajib memberikan penghormatan dan penghargaan,” kata Darmuis.

Wali Kota Sawahlunto, Deri Asta, mengapreiasi dukungan dari pemangku adat dan agama, bagi pengakuan UNESCO kepada Sawahlunto itu. Dipastikannya, pemkot akan selalu mendengarkan pertimbangan dan arahan dari para pemangku adat dan agama dalam merumuskan maupun menjalankan serta mengevaluasi kebijakan terkait.

“Sesuai program unggulan kita, adat agama dan budaya itu masuk dalam prioritas. Maka sudah tentu kita selalu bergandengan tangan, menjalin komunikasi – koordinasi terus dengan pemangku adat dan agama,” kata Wali Kota berusia 45 tahun itu.

Lihat juga...