Keunikan dan Kekhasan Nelayan Teluk Hadakewa Lembata

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LEWOLEBA — Teluk Hadakewa yang merupakan teluk yang sangat tenang dan indah membuat banyak spesies laut hidup di wilayah ini, termasuk beberapa yang dilindungi. Selain itu, di sini juga menjadi tempat spesies-spesies laut berkembang biak tanpa ada gangguan.

Benediktus Bedil, direktur Lembaga Pengembangan Masyarakat Lembata (Barakat). Foto : Ebed de Rosary

“Bisa dibilang tempat ini adalah tempat tinggal yang aman, tempat memadu kasih bagi pasangan satwa laut yang berbulan madu, tempat ikan-ikan besar beristirahat,” seloroh Benediktus Bedil, direktur Lembaga Pengembangan Masyarakat Lembata (Barakat), Senin (22/7/2019).

Bahkan teluk ini kata Ben sapaan karibnya, menjadi sebuah koridor tempat ikan-ikan bertelur, berkembang biak lalu menjadi besar dan pergi lagi. Jika dianalogikan dengan akomodasi manusia, tempat ini seperti hotel berbintang bagi satwa laut.

“Hampir saban tahun ikan Paus terdampar di tempat ini. Terakhir yang panjangnya 24 meter yang rangkanya hingga sekarang ditahtakan di tepi pantai Desa Watodiri sebagai kenangan dan objek kunjungan masyarakat sekitar,” terangnya.

Sementara itu, Yosef Magun, ketua kelompok nelayan Cinta Bahari desa Lamatokan kecamatan Ile Ape Timur mengatakan, bila nelayan desa menangkap ikan maka harus dijual kepada masyarakat di desanya terlebih dahulu.

Nelayan akan bersandar di pantai dan meniup siput besar yang mengeluarkan bunyi nyaring berkali-kali bila mendapatkan ikan. Tiupan ini kata Yosef sebagai penanda untuk memanggil masyarakat datang ke tepi pantai membeli ikan hasil tangkapan nelayan.

“Suara tiupan dari kerang ini sebagai tanda untuk memanggil masyarakat membeli ikan hasil tangkapan nelayan yang sedang sandar di pesisir pantai,” tuturnya.

Usai mendapat hasil tangkapan kata Yosef, nelayan diwajibkan untuk menjual hasil tangkapannya kepada masyarakat desa terlebih dahulu. Setelah semua masyarakat membeli, sisa ikannya baru dijual kepada pembeli dari luar desa atau penampung dari kota Lewoleba.

Melimpahnya hasil tangkapan nelayan tuturnya, berkat berhentinya aktifitas menangkap ikan yang merusak lingkungan. Bom dan potasium, 10 tahun silam begitu marak terjadi di perairan Teluk Hadakewa.

“Sejak terbentuknya Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) dan adanya Muro, daerah larangan menangkap ikan di teluk Hadakewa, hasil tangkapan kami mulai meningkat,” sebut Yosef.

Stefanus Ola, ketua kelompok nelayan Gewayan Tana sedang duduk di samping perahunya yang ditambatkan di pesisir pantai. Dirinya berceritera, laut di desanya memang menyediakan ikan berlimpah.

Masyarakat yang memiliki peralatan memancing sederhan kata Stefanus, begitu mudah memancing ikan.Bukan saja kaum lelaki, anak-anak dan perempuan pun terampil memancing dan mendapat banyak ikan.

“Ini sudah berlangsung sejak dahulu kala.Jadi kalau hendak makan dan ikan tidak ada maka hanya sebentar ke pantai dan lauk untuk makan pun sudah tersedia,” tuturnya bangga.

Teluk Hadakewa adalah sebuah teluk yang ada perairan Lembata dengan luas 3.350 km². Teluk ini meliputi 14 desa yang mengitarinya. Empat desa di kecamatan Ile Ape Timur yaitu desa Todanara, Jontona, Lamawolo dan desa Lamatokan.

Satu desa di kecamatan Ile Ape yaitu desa Watodiri dan 9 desa di kecamatan Lebatukan yaitu desa Lamatuka, Baopana, Merdeka, Hadakewa, Lerahinga, Leramata, Tapobaran, Tapolangun, dan desa Dikesare.

Dari 14 desa ini ada 3 desa yang menjaga pintu masuk Teluk Hadakewa yaitu desa Lamatokan, Dikesare dan Tapolangun.

Lihat juga...