Kalah Bersaing, Pengrajin Kandang Ayam Tradisional Kian Terjepit
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
YOGYAKARTA — Sejumlah pengrajin kandang ayam tradisional berbahan baku bambu di dusun Jodog, Gilangharjo, Pandak, Bantul, mengeluhkan semakin terjepitnya usaha mereka saat ini. Hal itu tak lepas karena semakin banyaknya produsen yang lebih modern berbahan kawat besi saat ini.
Salah seorang pengrajin, Hamid mengakui mengalami penurunan pesanan secara drastis sejak beberapa tahun terakhir.
“Sejak beberapa tahun terakhir ini pesanan semakin menurun. Karena memang banyak peternak lebih memilih kandang dari bahan kawat besi, yang dinilai lebih awet dan tahan lama,” ujarnya saat ditemui Cendananews belum lama ini.
Saat ini, Hamid sendiri mengaku hanya melayani pelanggan tetapnya di sejumlah daerah seperti Bantul, Purworejo, Kebumen, Wonosobo, Magelang dan Solo. Ia hanya memproduksi kandang saat ada pesanan saja.
“Sekarang pesanan hanya sekitar 300 unit saja per bulan. Jauh menurun dibandingkan beberapa tahun lalu yang bisa mencapai ribuan,” ungkapnya.
Para pengrajin kandang ayam Tradisional berbahan dasar bambu di dusun Jodog, termasuk Hamid, mengaku tak beralih membuat kandang ayam berbahan kawat besi karena sejumlah alasan. Mulai dari tidak adanya keahlian hingga keterbatasan alat dan modal yang dimiliki.
“Disini kan sejak dulu warga sudah terbiasa membuat kandang dari bahan baku bambu. Sehingga kalau beralih membuat kandang dari kawat besi agak susah. Apalagi modal dan alatnya juga tidak punya,” katanya.

Memproduksi kandang ayam khusus petelur, Hamid sendiri memanfaatkan bambu jenis Apus sebagai bahan baku. Bersama sejumlah karyawannya, ia mengaku mampu memproduksi belasan kandang ayam setiap harinya.
Satu unit kandang ayam ukuran 80 x30 cm isi 3 ekor ayam, biasa ia jual seharga Rp35 ribu. Sehingga jika dalam sebulan terdapat 300 pesanan, maka ia bisa mengantongi omset kotor hingga Rp10 juta lebih.
“Kita berharap, ada perhatian dari pemerintah untuk membantu pengrajin kandang ayam disini. Baik itu pelatihan-pelatihan maupun bantuan modal untuk membeli bahan baku dan alat,” ungkapnya.