Jumlah Kasus Gantung Diri di Sikka Tinggi
Editor: Mahadeva
MAUMERE – Hingga akhir Juli 2019, tercatat sudah 12 warga Kabupaten Sikka yang nekat mengakhiri hidup dengan gantung diri.
Jika dirata-ratakan, maka dalam sebulan terjadi dua kasus warga gantung diri. Hal tersebut tentunya, harus mendapatkan perhatian serius semua pihak di daerah tersebut. “Sebagai warga masyarakat tentu kami juga kaget dengan banyaknya kasus gantung diri ini. Bukan hanya di kota Maumere saja, kasus gantung diri juga terjadi di desa,” ungkap Firmina Nona, warga Maumere, Rabu (31/7/2019).
Diharapkan, Pemkab Sikka bisa mengajak segenap elemen masyarakat dan pemuka agama, untuk membicarakan persoalan tersebut. Harus ada sebuah aksi nyata, untuk mengurangi jumlah kejadian gantung diri di daerah tersebut.
Pemerintah diminta pro aktif mengajak elemen masyarakat mencari akar penyebab gantung diri dan kemudian mengatasinya. “Tentunya kami sebagai masyarakat sangat prihatin kenapa banyak sekali kasus gantung diri. Semuanya itu pasti ada jalan keluarnya, dan pemerintah bisa melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai solusi dan cara pencegahannya,” tandasnya.

Kapolres Sikka, AKBP Rickson PM Situmorang SIK, berharap meningkatnya kasus bunuh diri harus mendapatkan kepedulian semua pihak. “Peran tokoh agama juga sangat penting untuk meningkatkan keimanan umatnya. Yang mengetahui alasan kenapa melakukan bunuh diri tentu hanya korban sendiri bahkan keluarganya pun tidak mengetahui pasti,” tuturnya.
Rickson menyebut, bila permasalahannya terkait ekonomi, maka perlu langkah konkrit untuk menaikan taraf hidup masyarakat. Banyak jalan keluar yang bisa dilakukan, seperti memberikan beasiswa bagi anak sekolah atau bantuan pelatihan kerja.
Rohaniawan Katolik, RD. Fidelis Dua, mengatakan, kecendrungan segelintir orang muda melakukan bunuh diri, karena stres. Rata-rata korban jarang melibatkan diri dalam organisasi kepemudaan. “Banyak korban tidak melibatkan diri dalam organisasi kepemudaan dan berpikir hidup sendiri dengan dirinya. Ketika tidak ada menemukan jawaban permasalah, bunuh diri menjadi pilihan,” tandasnya.
Marthinus Ngai, ayah seorang pemuda bernama Yulius Samsedu Pati (27), yang meninggal akibat gantung diri, kepada media di RS TC Hillers mengatakan, anaknya dikenal pendiam dan jarang berbicara termasuk kepada kedua orang tuanya. “Setelah tamat kuliah S1 Biologi dua tahun lalu di salah perguruan tinggi di Kota Malang, Jawa Timur, anak saya belum punya pekerjaan. Sehari-hari, Dia membantu mengantar adik-adiknya ke sekolah dan bekerja,” jelasnya.
Almarhum Yulius disebutnya, sesekali keluar rumah, tetapi lebih banyak berdiam diri. Kalau di rumah setelah memberi makan hewan peliharaan, hanya bermain HP. “Anak saya tidak memiliki masalah pribadi dan saya menduga anak saya meninggal karena tertekan belum mendapatkan pekerjaan,” pungkasnya.