Enam Daerah di NTT Terancam Kekeringan Klimatologis
KUPANG – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kupang mencatat, ada enam dari 22 kabupaten dan kota di NTT berpontensi mengalami kekeringan.
Ke-enam wilayah kabupaten itu adalah Kabupaten Sikka, Kabupaten Lembata, Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Belu dan Kota Kupang., kata Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kupang, Apolinaris Geru, mengatakan, berdasarkan hasil monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga 30 Juni 2019, terdapat potensi kekeringan meteorologis (iklim) di sebagian besar Jawa, Bali dan Nusa Tenggara dengan kriteria panjang hingga ekstrem.
Khusus untuk wilayah NTT, berdasarkan monitoring HTH sampai dengan dasarian 3 Juni 2019, pada umumnya mengalami HTH dengan kategori Menengah (11-20 hari) hingga kategori Sangat Panjang (31-60 hari). “Namun di enam wilayah kabupaten tersebut, ada yang sudah mengalami hari tanpa hujan (HTH) kategori ekstrem (>60 hari),” kata Apolinaris Geru.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah daerah diminta melakukan deteksi dini terhadap ancaman kekeringan. “Kekeringan berkepanjangan bisa mengarah pada bencana klimatologis sebagai akibat cuaca ekstrem. Pemerintah diminta waspada dan meningkatkan fungsi deteksi dan tindakan dini mengacu pada petunjuk BMKG,” kata Wakil Ketua DPRD NTT, Yunus Takandewa.
NTT sebagai provinsi kepulauan, disebutnya, sebagian besar terdiri dari tutupan ilalang dan rumput sabana yang rentan terbakar. Kekeringan dan menipisnya stok air baku bisa memicu timbulnya ancaman bagi kantong-kantong produksi lahan pertanian dan pakan ternak. “Karena itu, tindakan penyelamatan fungsi lingkungan secara jangka panjang dan berkelanjutan merupakan kebutuhan mendesak,” tandasnya. (Ant)