Kemarau 2022 Diperkirakan Lebih Kering, Karhutla Makin Mengancam

Admin

JAKARTA, Cendana News – Musim kemarau tahun 2022 diperkirakan akan lebih kering. Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengancam. Begitu pula bencana kekeringan.

Kebakaran lahan dan hutan menjadi ancaman bencana di musim kemarau, selain bencana kekeringan.

Namun, bencana kebakaran hutan menjadi fokus perhatian pemerintah. Sebab, dampak asap bisa meluas hingga ke luar negara.

Provinsi Riau sebagai salah satu daerah paling sering mengalami kebakaran hutan, sudah sejak awal menyiapkan diri.

Mengutip laman indonesia.go.id, hingga pertengahan Maret 2022 Provinsi Riau sudah mengalami karhutla. Luasnya mencapai 421 hektare.

Sementara itu secara nasional, sepanjang tahun 2022 ini kebakaran hutan sudah melahap 10.078 hektare lahan.

Provinsi Sumatera Barat, Lampung, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tenggara mencatat karhutla di atas 1.000 hektare.

Pada akhir Maret 2022, citra satelit menunjukkan adanya titik-titik api di Aceh, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatra Selatan, dan Kalimantan Barat.

Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memprediksi musim kemarau mulai April 2022.

Menteri Siti Nurbaya menekankan perlunya perhatian dan antisipasi karhutla untuk Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Siti Nurbaya memperkirakan, ketiga daerah tersebut akan mengalami kemarau kering. Utamanya pada periode Juli-Oktober 2022.

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian LHK Laksmi Dhewanthi, juga mengakui musim kemarau 2022 akan lebih kering.

Dia menjelaskan, fenomena iklim La Nina akan netral dan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) akan absen.

“Dalam kondisi tersebut, tidak akan banyak pasokan udara basah ke langit Indonesia untuk berproses menjadi awan hujan,” kata Laksmi.

Dia mengklaim, sejumlah kasus karhutla yang sudah terjadi sejauh ini bisa teratasi. Namun, ada potensi muncul karhutla baru di sepanjang kemarau 2022.

Laksmi menyatakan siap mengajak tim modifikasi cuaca (TMC) dari BRIN untuk kembali menyemai awan (cloud seeding). Hal ini untuk mendatangkan hujan di atas lahan-lahan gambut di daerah potensial karhutla.

Dia mengingatkan, sekali lahan gambut terbakar, eskalasinya sulit terkendali.

‘’Kita harus menyiapkan upaya yang lebih intensif dibandingkan selama tiga tahun terakhir ini,’’ ujar Laksmi.

Sepanjang Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), beberapa bencana karhutla terjadi dalam skala besar.

Pada 2015, karhutla mencapai 2,6 juta hektare. Kemudian pada tahun 2019, karhutla kembali muncul dalam skala besar hingga 1,65 juta hektare.

Setahun kemudian, tahun 2020 karhutla juga terjadi dengan luas lahan 297.000 hektare, dan 359.000 hektare di tahun 2021.

Lihat juga...