Usaha Kuliner di Kawasan Jalintim Kembali Bergairah

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Seiring perbaikan jembatan Mesuji disertai pembangunan jembatan darurat, lalu lintas di Jalan Lintas Timur (Jalintim) kembali ramai. Hal ini pun berdampak posistif bagi pelaku usaha rumah makan (kuliner) di kawasan tersebut. Sebelumnya, para pekaku usaha kuliner sepi pembeli akibat kendaraan ekpedisi yang merupakan pelanggan warung makan di kawasan Jalintim, dialihkan melewati jalan lintas tengah (Jalinteng).  

Herman, salah satu pemilik usaha warung makan di Jalintim menyebut, sebelumnya ketika jembatan Way Mesuji ambrol, semua kendaraan dialihkan ke Jalan Lintas Tengah (Jalinteng). Sejak Senin (17/6), sejumlah kendaraan bahkan mengikuti imbauan pindah ke tol Sumatra dan Jalinteng sehingga Jalintim, sepi.

Meski hanya selama empat hari kendaraan tidak melintas di Jalintim, Herman mengaku usaha kulinernya ikut terdampak. Dalam sehari, sejak pagi hingga malam, sekitar puluhan kendaraan pribadi, truk ekspedisi singgah untuk membeli makanan. Namun usai pembangunan jembatan darurat di sebelah jembatan ambrol, pengendara dengan kendaraan bertonase kecil kembali bisa melintas.

Helmi, salah satu pengurus jasa ekspedisi antarpulau Jawa dan Sumatra mengarahkan sejumlah mobil untuk kembali melintas di Jalan Lintas Timur terutama untuk kendaraan dengan tonase ringan -Foto: Henk Widi

Menurut Herman, selama ini pelanggan rumah makannya dominan merupakan pengemudi truk ekspedisi. Sejumlah truk pengangkut sembako, barang kelontongan tujuan Sumatra Selatan memilih melintas di Jalintim. Konsep kuliner serba sepuluh ribu (Serbu) untuk semua jenis menu membuat warung kuliner miliknya menjadi favorit.

“Usaha kuliner yang ada di sepanjang Jalintim dominan memiliki konsumen pengemudi truk ekspedisi. Saat jembatan Mesuji ambrol, semua kendaraan tidak melintas sehingga konsumen berkurang, tapi kini mulai normal,” kata Herman, saat ditemui Cendana News, Sabtu (22/6/2019).

Dalam sehari, Herman mengaku bisa memperoleh omzet sekitar Rp5 juta hingga Rp6 juta. Selain dari konsumen pengemudi kendaraan ekspedisi, konsumennya juga merupakan pekerja informal di sekitar pelabuhan Bakauheni. Kerja sama dengan pengurus jasa ekspedisi untuk menjaring pelanggan, menjadi cara efektif untuk meningkatkan penjualan.

Herman dan ratusan pemilik warung di sepanjang Jalintim, berharap perbaikan jembatan Mesuji segera dipercepat. Sebab, berkurangnya kendaraan melalui Jalintim bisa berimbas pada usaha kuliner. Peralihan konsep warung Serbu diakuinya juga berangkat dari beralihnya kendaraan melalui Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS). Sebab,lima tahun sebelumnya saat jalan tol belum dibuat, kendaraan masih melintas di Jalinsum dan Jalintim.

“Kami membuat warung kuliner dengan harga terjangkau, agar bisa bertahan usai tol beroperasi, sehingga Jalintim yang lancar bisa membuat usaha kuliner kami bertahan,” ungkap Herman.

Sementara itu perbaikan jembatan Mesuji diiringi pembuatan jembatan darurat juga disambut positif pengurus jasa ekspedisi.

Helmi, salah satu pengurus jasa transportasi, mengaku sesuai informasi perbaikan konstruksi membutuhkan waktu dua pekan sehingga awal Juli bisa dilintasi.

Perbaikan jembatan oleh tim Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sangat ditunggu pengusaha ekspedisi.

Pasalnya, kata Helmi, kendaraan yang melalui Jalinteng harus mengeluarkan biaya ekstra untuk bahan bakar dan uang makan. Selisih jarak tempuh sekitar dua hari dari normalnya hanya empat hari menjadi enam hari, mengakibatkan biaya membengkak.

Pada kondisi normal, uang yang dikeluarkan saat ia melintas di Jalintim sekali jalan untuk bahan bakar minyak (BBM) mencapai Rp2 juta. Saat melintas melalui Jalinteng, biaya tambahan sekitar Rp1 juta dipastikan keluar.

“Kendaraan ekspedisi dengan muatan ringan masih bisa melintas di jembatan darurat, sehingga kami kembali mengarahkan truk ke Jalintim,” beber Helmi.

Selama masa perbaikan, jembatan utama tidak dapat dilalui. Namun, sejumlah kendaraan tonase ringan masih bisa melintas melaui jembatan darurat.

Sejumlah kendaraan dengan tonase berat sebagian dialihkan dengan membuka secara situasional jalan Tol Pematang Panggang–Kayu Agung yakni mulai dari Simpang Susun Pematang Panggang Km 239–Se­pucuk Km 323 (Kayu Agung Km 329) selama 14 hari, yakni mulai 18 Juni – 4 Juli 2019.

Lihat juga...