ENDE- Potensi tanaman kopi di sekitar kawasan Taman Nasional Kelimutu, sangat menjanjikan. Hal ini mengingat tanah di beberapa kecamatan di sekitar gunung berapi ini tergolong subur dan cocok untuk ditanami kopi.
“Potensi tanaman kopi sangat menjanjikan buat petani. Rata-rata tanaman kopi sudah berumur puluhan tahun dan banyak masyarakat yang menanamnya sejak 1970an, bahkan sebelumnya,” sebut Ferdinandus Watu, petani sekaligus pemilik kedai kopi di Detusoko, Senin (17/6/2019).
Dikatakan Nando, sapaannya, dirinya selalu memotivasi petani untuk melakukan perawatan kebun kopinya. Selain itu, proses panen dan penjemuran harus sesuai standar, agar kulitas kopinya bagus.

“Rata-rata kopi di kebun warga di beberapa desa dan kecamatan sekitar gunung berapi Kelimutu, sudah berumur puluhan tahun. Jarak dari kampung ke perkebunan kopi pun terlalu jauh, sehingga menyulitkan pengangkutan,” ujarnya.
Nando terus berupaya agar hasil produksi kopi terus dijaga kualitasnya, agar harga jualnya bagus. Dirinya pun mencoba memproduksi kopi bubuk dan dikemas serta membuat kedai kopi, agar kopi petani bisa dibeli dengan harga yang lebih tinggi.
“Rata-rata petani di sekitar Kelimutu menanam kopi jenis Arabika yang sudah berumur puluhan tahun. Rasa kopinya pun enak dan disukai wisatawan, sehingga harus ada bantuan pendampingan dari pemerintah kepada petani,” pintanya.
Nando berharap, agar petani bisa melakukan peremajaan kopi, termasuk menanam jenis kopi dari bibit unggul. Kopi Robusta juga harus mulai ditanam di beberapa wilayah yang cocok dengan ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut.
“Kalau perawatan dan proses panen hingga pascapanen bagus, maka kopi Arabika bisa dijual dengan harga di atas Rp30 ribu per kilogram. Saat ini, harga kopi petani di penampung di kota Ende berkisar antara Rp25 ribu sampai Rp30 ribu per kilogram,” terangnya.
Urbanus Seru, Ketua Kelompok Tani Rendu Reri Toba, Desa Roga, Kecamatan Ndona Timur, mengaku kelompoknya terdiri dari 24 orang, dan hampir semuanya memiliki kebun kopi Arabika.
“Kopi Arabika sudah lama ditanam sejak sekitar 1980an. Rata-rata lahan kopi berada di kawasan hutan, namun sejak adanya kawasan Taman Nasional Kelimutu, petani mulai membuka lahan kebun kopi di luar kawasan,” terangnya.
Dalam setahun, Urbanus mengaku bisa panen 300 kilogram kopi Arabika. Produksinya memang sedikit, sebab kopi miliknya baru pertama berbuah.
Kopi dijual ke penampung yang datang ke desa atau ke kota Ende, seharga Rp30 ribu per kilogramnya.
“Selain menanam kopi, petani juga menanam cengkih dan kakao. Ada juga menanam bawang merah dan kacang merah untuk menambah penghasilan di saat kopi belum panen,” paparnya.