Kapal Roro Kembali Layani Masyarakat Sikka Usai Lebaran

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Setelah sempat hilang dan tidak beroperasi akibat tenggelam di Labuan Bajo pada sekitar 8 bulan lalu, kapal fery jenis roro kembali akan melayani masyarakat kabupaten Sikka. Kapal roro Windu Karsa Dwitya, dipastikan menggantikan kapal roro Dharma Kencana yang sempat vakum selama 8 bulan.

“Kita harus menyediakan beberapa alternatif dahulu. Ini kan bukan sesuatu yang baru. Dulu sempat ada, tetapi karena kapalnya tenggelam, maka tidak ada lagi,” sebut Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, Selasa (4/6/2019).

Saat menyambut kedatangan kapal roro Windu Karsa Dwitya di pelabuhan fery Kewapante, Robi, sapaannya, berharap masyarakat bisa memanfaatkan kapal ini. Dengan hadirnya kapal ini, diharapkan bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi.

“Setelah persemian tanggal 8 Juni nanti, maka akan dibuatkan jadwalnya dari Maumere-Surabaya PP dan biayanya sesuai pasar. Saya yakin, masyarakat masih membutuhkan alternatif penyeberangan ini,” ungkapnya.

Manajer operasional Windu Karsa, Dwitya Togar Napitupulu. -Foto: Ebed de Rosary

Robi menambahkan, pemeirntah kabupaten Sikka akan bekerja terus melakukan perbaikan, sehingga dalam beberapa bulan bisa terbentuk sisitem yang lebih baik. Dengan begitu, bisa menjamin keberlanjutan pelayaran kapal roro ini.

“Tentu kita akan bekerja sama dengan pihak Polres Sikka, agar jalur transportasi di depan dermaga nanti bisa lancar saat kapal beroperasi. Hal ini mengingat jalur jalan negara tersebut sangat sempit,” tuturnya.

Pemda Sikka, kata Robi, akan terus mencari peluang dengan rute yang lain, tapi harus melihat jangan sampai transportasi ini menjadi macet. Untuk sementara, pemerintah kabupaten belum memberi subsidi dana.

“Semoga dengan berlayarnya kapal ini dan ketersediaan pelabuhan ferry, bisa dimanfaatkan masyarakat. Pemerintah tetap mendampingi, agar fasilitas ini tetap bisa dimanfaatkan masyarakat dan terus berlanjut,” tegasnya.

Togar Napitupulu, manajer operasional Windu Karsa mengatakan, kapasitas kapal roro ini bisa memuat kendaraan truk besar sebanyak 25 unit, dan mobil kecil sekitar 35 unit, serta puluhan sepeda motor. Penumpang sendiri bisa mencapai sekitar 400 orang.

“Kapal ini bekas dari lintasan pendek dari Merak menuju Bakauheni, sehingga harus diurus dan dibenahi termasuk mengurus berbagai surat. Ini sedang libur sehingga nanti setelah peresmian tanggal 8 Juni 2019, baru bisa diselesaikan suratnya,” ungkapnya.

Terkait prospek bisnis, kata Togar, pihaknya akan sesuaikan dengan rencana perjalanan kapal sesuai izin dari Maumere ke Surabaya PP. Bisa juga nanti Surabaya ke Makassar dan lainnya. Tapi, rute yang diminta masih Maumere ke Surabaya PP.

“Kita berharap, agar kapal roro ini terus bisa beroperasi. Kita sudah menyiapkan armada, tapi jangan sampai tidak dimanfaatkan. Kami investasi ke sini bukan untuk merugi, tentunya,” tegasnya.

Sekali perjalanan, jelas Togar,dibutuhkan bahan bakar sekitar 16 ton. Untuk itu, pihaknya juga meminta agar pemerintah kabupaten Sikka mensubsidi BBM. Perusahaannya biasa mendapatkan subsidi BBM untuk pelayaran kapal roro.

“Tarif sedang dibuat dan dikaji, agar jangan sampai membebani masyarakat. Kami sudah mengumpulkan berbagai perusahaan ekspedisi di Surabaya dan membicarakannya. Nanti setelah diresmikan pengoperasiannya pada tanggal 8 Juni,  pada 9 dan 10 Juni sudah bisa beroperasi,” terangnya.

Kapal roro Windu Karsa Dwitya dibuat tahun 2.000. Selama ini beroperasi di selat Sunda. Dengan adanya peraturan pemerintah, tandas Togar, mensyaratkan kapal di bawah 5 ribu Gross Ton (GT) sudah tidak bisa beroperasi lagi di lintasan padat, seperti Merak-Bakauheni.

“Saya sudah mencari berbagai rute, dan yang paling pas rute Surabaya-Maumere. Kami akan bersandar di dermaga fery Kewapante sesuai dengan kesepakatan bersama pemerintah kabupaten Sikka,” pungkasnya.

Lihat juga...