Imbas Panen Bertahap, Harga Jagung Alami Kenaikan Tipis

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Harga komoditas pertanian jagung di kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) mengalami kenaikan tipis.

Rohman, petani jagung di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebut kenaikan hanya berkisar Rp250 per kilogram.

Pergerakan harga jagung diakuinya bisa berubah sewaktu waktu menyesuaikan cuaca, masa panen serta kebutuhan produsen pakan unggas. Masa panen bertahap sekaligus mempengaruhi kenaikan harga jagung.

Harga jagung kering diakui Rohman naik dari Rp3.900 menjadi Rp4.150 per kilogram. Meski naik, ia menyebut masih lebih rendah dibandingkan musim panen sebelumnya yang mencapai Rp4.500 hingga Rp4.800 per kilogram.

Kenaikan harga jagung pipilan meski hanya sedikit namun menjadi harapan baru bagi petani. Sebab masa panen bertepatan dengan jelang tahun ajaran baru siswa sekolah.

Rohman, memanen jagung jenis pioner yang memasuki masa kering pohon – Foto: Henk Widi

Rohman menyebut dengan rata rata harga per kilogram Rp4.000 maka per ton jagung ia bisa mendapatkan hasil Rp4 juta. Pada lahan seluas satu hektare jagung yang dihasilkan mencapai 3 ton atau bisa diperoleh sebesar Rp12 juta satu kali musim tanam.

Idealnya harga jagung di tingkat petani diakuinya bisa mencapai Rp5.000 untuk bisa memberi kesejahteraan bagi para petani.

“Harga yang naik tipis hanya bisa menutupi biaya operasional mulai pembelian bibit, pupuk obat obatan serta biaya pasca panen mulai pemetikan hingga perontokan jagung memakai mesin. Tapi cukup lumayan dibanding musim tanam saat ini,”ungkap Rohman saat ditemui Cendana News, Kamis (27/6/2019).

Hasil yang lumayan meski tipis menurut Rohman sangat beralasan, sebab pada masa tanam Mei-Juli, sebagian besar tanaman diserang hama ulat grayak.

Ia mengaku beruntung saat masa tanam jagung miliknya tidak diserang hama ulat sehingga pertumbuhan normal. Pada penanaman jagung yang diserang hama ulat grayak, Rohman menyebut produksi buah jagung dipastikan menurun. Sebagian tanaman jagung milik petani bahkan berpotensi mengalami gagal panen.

Kenaikan harga jagung sebesar Rp250 per kilogram diakuinya imbas panen bertahap. Ia bahkan memprediksi harga berpotensi naik saat panen tahap berikutnya akibat pasokan jagung berkurang.

Saat produksi jagung berkurang dengan kebutuhan untuk bahan baku pakan unggas meningkat, harga jagung berpotensi terdongkrak. Musim kemarau yang berimbas minimnya petani penanam jagung menjadi salah satu faktor penurunan harga jagung di level petani.

Mirzan, salah satu pengepul sekaligus pemilik mesin pemipil jagung mengaku harga jagung bisa berubah dalam hitungan hari. Harga disebutnya ditentukan oleh pabrik pengepul menyesuaikan kualitas, kadar air pada jagung.

Saat musim panen Mei-Juni bersamaan dengan kemarau membuat kadar air rendah. Kadar air rendah bisa mendongkrak harga jagung yang kerap digunakan sebagai bahan baku unggas.

Kadar air jagung pada batas normal yang layak dijual diakuinya berada di bawah 15 persen. Semakin tinggi kadar air jagung membuat harga berpotensi turun yang kerap terjadi saat musim penghujan.

Pada proses pemipilan atau perontokan jagung ia menyebut mengirim sekitar 5 ton jagung. Sebagian jagung yang dipipil merupakan milik petani dan ia hanya menyewakan alat pemipil. Alat pemipil jagung diakuinya disewa sebesar Rp40.000 untuk memipil 1 ton jagung.

“Selain membeli jagung dari petani, saya menyewakan alat pemipil bagi petani yang sedang panen,” ujarnya.

Mirza menyebut masa panen jagung masih akan berlangsung terutama di wilayah lahan pertanian kecamatan Penengahan. Sebagian wilayah Ketapang, Penengahan, Bakauheni yang mulai memasuki masa panen diakuinya dilakukan bertahap.

Selain menjual dalam bentuk pipilan sebagian petani memilih menjual jagung dalam kondisi utuh atau gelondongan. Penjualan jagung gelondongan disebutnya dipilih untuk menghemat biaya pemipilan.

Lihat juga...