Petugas Kesehatan Ketapang Lakukan Pengawasan Makanan Selama Ramadhan
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
LAMPUNG — Dinas Kesehatan Lampung Selatan (Lamsel) melalui Unit Pelaksana Tekhnis (UPT) Puskesmas Ketapang lakukan pengawasan makanan selama Ramadhan. Pengawasan dilakukan dengan menggelar razia di sejumlah pasar tradisional dan toko waralaba untuk menghindari bahan makanan berbahaya dijual ke masyarakat.
Bidan Wuryanti, anggota tim pengawasan (monitoring) pangan dari Puskesmas Ketapang menyebutkan, pada kesempatan pengawasan tersebut sejumlah bahan makanan yang diperiksa meliputi menu untuk hidangan berbuka puasa atau takjil dan hidangan untuk Idul Fitri. Beberapa makanan yang dijual diambil sampel untuk diperiksa kandungan zat yang digunakan.
Makanan tersebut di antaranya cincau, agar agar, tempe, rumput laut, buah delima, kolang kaling, cendol, biji mutiara serta jenis bahan minuman dan kue. Setelah dilakukan pengambilan sampel makanan tim yang didampingi oleh kepala pasar, Satpol PP Kecamatan Ketapang langsung melakukan pengujian. Hasil pengujian pada sejumlah makanan terbukti negatif mengandung bahan berbahaya jenis Rhodamin B, Metanil Yellow, Formalin dan Boraks.
“Beberapa sampel yang diperiksa tidak ditemukan zat berbahaya untuk kesehatan. Ada kesadaran dari masyarakat untuk menjual bahan makanan sehat selama bulan Ramadhan,” terang bidan Wuryanti petugas dari Puskesmas Ketapang, Jumat (17/5/2019)
Pada kesempatan pengawasan tersebut tim Dinas Kesehatan Lamsel sekaligus melakukan sosialisasi dampak negatif bahan berbahaya bagi kesehatan. Dampak negatif kerap tidak disadari oleh pembuat dan pedagang makanan, padahal berbahaya bagi pencernaan manusia dan peradangan pada kulit.
Selain itu zat formalin yang kerap dipergunakan untuk pengawet mayat di rumah sakit, disinfektan menjadi bahan berbahaya. Selain bisa mengakibatkan iritasi pada kulit, bisa merusak organ dalam berupa jantung, otak dan ginjal.
Pedagang makanan juga diimbau tidak menggunakan boraks karena sangat berbahaya yang bisa mengakibatkan mual, sakit kepala serta nyeri. Bahan tersebut biasanya dipergunakan untuk pembuatan diterjen.
Wuryanti juga mengimbau agar masyarakat cermat dan teliti sebelum membeli menu takjil. Salah satu cara memilih makanan yang baik dilakukan dengan memperhatikan kebersihan lingkungan, tempat penjualan. Kejelian dalam melihat kondisi fisik sangat berpengaruh pada kesehatan makanan.

Samiyem, salah satu pedagang di pasar Sripendowo menyebut, saat bulan ramadan beberapa bahan pembuatan menu takjil dijual di antaranya kolang kaling, rumput laut, mutiara dan cendol. Ia memastikan bahan makanan yang dijual tidak memakai zat berbahaya bagi kesehatan. Khusus pewarnaan ia bahkan menggunakan daun pandan untuk warna hijau dan daun suji untuk warna merah.
“Pernah ada kejadian warga keracunan karena membeli cincau dua tahun silam maka pedagang lebih berhati hati sebab justru merugikan karena tidak ada yang beli,” ungkap Samiyem.