Kelompok Bahan Makanan Terproyeksi Penyumbang Inflasi Mei 2019
Editor: Mahadeva
BALIKPAPAN – Pada Mei 2019, kondisi ekonomi diproyeksi akan mengalami inflasi lebih tinggi dari April. Penilaian tersebut muncul, menyusul kelompok bahan makanan masih akan menyumbang inflasi terbesar.

Di Ramadan dan lebaran, kelompok bahan makanan mengalami kenaikan harga dan jumlah permintaan. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Bimo Epyanto, memproyeksikan, inflasi Mei 2019 akan berada di kisaran 0,8 persen.
Hal itu berdasarkan survei alamiah, yang dilakukan pada pekan pertama Mei 2019. “Proyeksi inflasi Mei 2019 sebesar 0,8 persen atau setinggi-tingginya 0,9 persen pada inflasi bulanan. Secara alamiah, kami survei internal, dari hitungan-hitungan sedernaha, apabila tidak ada gejala gejolak harga yang tinggi,” katanya saat ditemui Selasa, (14/5/2019).
Apabila di April 2019 kelompok transport memberikan andil inflasi, maka di Mei kelompok transport akan stagnan mengingat kenaikan tarif tiket pesawat udara sudah terjadi lebih dulu. “Kalau tranportasi kaitannya dengan tiket, ini logisnya harga tiket sudah tinggi, jadi kemungkinan besar tiket transportasi udara tidak akan naik tinggi lagi karena sudah masuk batas atas. Apalagi ini ada wacana akan menurunkan batas atas dari Kementerian Perhubungan,” tandasnya.
Untuk diketahui, di April 2019 Kota Balikpapan tercatat mengalami inflasi sebesar 0,25 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang mencatatkan deflasi sebesar -0,28 persen (mtm).
Inflasi April 2019 tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata inflasi di April selama tiga tahun terakhir yang hanya sebesar -0,06 persen (mtm). Sedangkan secara tahunan, inflasi IHK Kota Balikpapan mencatatkan angka sebesar 2,93 persen (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,83 persen (yoy) dan Provinsi Kalimantan Timur sebesar 2,84 persen (yoy).
“Kenaikan harga kelompok transport memberikan andil inflasi terbesar yaitu 0,18 persen pada inflasi pada April 2019. Hal itu karena dampak kenaikan tarif angkutan udara yang memberi tekanan sebesar 4,61 persen atau andil 0,18 persen,” jelasnya.
Untuk menekan inflasi Mei, BI terus melakukan sosialisasi termasuk bekerjasama dengan ulama, dengan mengajak masyarakat belanja bijak. Artinya, belanja sesuai kebutuhan atau tidak berlebihan. “Lebih bijak dalam berbelanja dan bazar murah dibawah koordinasi Dinas Perdagangan yang dimulai sejak 9 mei 2019 kemarin,” tandas Bimo Epyanto.
Animo masyarakat untuk mengikuti bazaar cukup bagus. Dengan demikian, diharapkan kegiatannya dapat membantu menekan angka inflasi. Upaya lainnya adalah melakukan pengecekan ketersediaan bahan-bahan makanan yang dibutuhkan masyarakat bersama Satgas Pangan. “Satgas pangan ini cukup efektif dalam penanganan khususnya apabila ada dugaan penimbunan,” tutupnya.