Enam Korban Demonstrasi Meninggal di Empat Rumah Sakit
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti, mengungkapkan, 6 korban meninggal dunia tersebar di 4 rumah sakit, yakni 1 korban meninggal di RS Tarakan, 2 di RS Pelni, 1 di RS Budi Kemuliaan, 1 di RS Mintoharjo, dan 1 di RSCM.
Meski begitu, Widyastuti mengaku belum mengetahui penyebab kematian 6 korban meninggal dunia akibat kejadian bentrok tersebut.
“Enam korban meninggal dunia tersebut satu berada di RSUD Tarakan, dua di RS Pelni, satu korban di RS Budi Kemuliaan, satu korban di RS Mintoharjo, dan satu orang meninggal dunia di RSCM,” kata Widyastuti di Rumah Sakit Tarakan, Cideng Raya, Jakarta Pusat, Rabu (22/5/2019).
Kemudian dia mengatakan ada 80 korban, namun beberapa di antaranya mengalami luka-lecet, hingga luka akibat peluru karet.
“Jadi saat ini kita semua tim siaga. Untuk masalah luka-luka ada luka akibat benda tajam tumpul, dan luka luka lecet, ada luka robek, dan beberapa menembus ke pembuluh darah di paru-paru. Sejauh ini yang kami lihat di RSUD Tarakan memang ada (korban) peluru karet,” ujarnya.
Sejauh ini, Widyastuti belum bisa memastikan apa penyebab utama korban meninggal dunia. Sebab, dia menyebut masih menunggu hasil diagnosa dari tim dokter di rumah sakit terkait.
“Secara diagnosa, sedang didalami di Rumah Sakit masing-masing. Meninggal dunia di sini ada satu, kemudian dua korban di pelni. lalu di RS Budi Kemuliaan ada satu, RS Mintoharjo Satu, dan RSCM satu. Yang penting adalah upaya ke gawat daruratnya tanpa memilah-milah. Upayakan penolongan pertama dulu” tegas dia.
Selain itu dia mengatakan kondisi korban luka akibat kerusuhan demo tadi malam yang dilarikan RS Tarakan terdapat korban akibat tembakan peluru karet.
“Sejauh ini yang kami lihat di (RS) Tarakan tadi memang peluru karet,” ujarnya.
Sampai detik ini pihaknya bakal mengutamakan upaya kegawatdaruratan tanpa memilah korban, merupakan aparatur ataupun masyarakat sipil. Pencatatan identitas akan dilakukan secara pararel.
“Kami tidak membagi-bagi, yang terpenting adalah upaya kegawatdaruratan. Sejauh ini yang kami lihat tadi, luka yang diderita korban akibat benda tajam dan tumpul, lalu luka lecet di beberapa bagian tubuh. Untuk korban meninggal, kami akan mendiagnosa lebih lanjut penyebab kematian,” katanya.
Dia mengatakan baik korban massa yang datang dari luar kota atau berasal dari warga Jakarta, semuanya akan dirawat tanpa mengedepankan biaya.
Meski begitu, dia tak menjelaskan mengenai jumlah korban yang sudah dirawat, pasca bentrok antara Polisi dan Massa aksi yang pecah di beberapa titik pada Selasa (21/5/2019) malam hingga Rabu dini hari tadi.
Dia memastikan rumah sakit di DKI Jakarta, siap menangani siapa pun yang terluka akibat kerusuhan demo. Widyastuti menyatakan pertolongan pertama akan dilakukan dan identitas bisa menyusul.
Dia menyebut ada 10 RS rujukan yang disiapkan. Menurutnya, masalah luka-luka yang terjadi akibat benda tajam, benda tumpul hingga ada luka yang menembus pembuluh darah.
“Jadi saat ini semua tim siaga seperti saya sampaikan kemarin ada 37 titik dilakukan di lapangan kemudian ada 10 RS rujukan tetapi semua RS siaga kalau memang nanti terjadi penumpukan,” jelasnya.
Sedangkan Kepala RS Tarakan, Dian Ekowati mengatakan, korban kericuhan demonstrasi telah berdatangan sejak Selasa 21 Mei, malam sekitar pukul 19.30 WIB. Selanjutnya korban mulai meningkat saat Rabu (22/5/2019) subuh yang dirawat RS Tarakan.
“Mulai jam 19.30 tadi malam sudah mulai masuk. Pagi tadi, setelah subuh (mulai banyak),” ujar Dian di RS Tarakan.
Dia mengatakan, pihaknya memang sudah mempersiapkan menangani keadaan darurat karena demonstrasi terjadi di Jakarta Pusat. Pihak rumah sakit telah mengerahkan sebanyak 60 dokter dan 400 perawat yang terbagi dalam shift.
Selain itu dia menambahkan, RS Tarakan mampu menampung hingga 100 korban. Disediakan untuk luka ringan sekitar 60 velbed dan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sekitar 40 velbed.
Sementara korban yang ada di RS Tarakan lebih dari 80 orang dengan mengalami luka-luka ringan, cidera kepala ringan, dan luka terkena benda tumpul. Dari jumlah itu, sebagian masih mendapatkan perawatan, pengobatan, dan sebagian lainnya sudah pulang.
Sekitar pukul 09.00 WIB, terdapat satu orang meninggal di RS Tarakan. Dan satu orang masih kritis sedang ditangani dokter. Akan tetapi, Dian belum bisa menyebut penyebab korban meninggal dunia.
“Tadi kelihatannya banyak pendarahan kami belum lihat sumbernya darimana sedang diasesmen oleh dokter,” katanya.
Diberitahukan, ricuh terjadi mulai menjelang tengah malam dan baru mulai kondusif menjelang sahur. Pagi ini, massa kembali berdatangan ke sejumlah titik di Jakarta, di antaranya di depan Bawaslu dan Jalan Jatibaru, Tanah Abang.