Surat Gembala Paskah, Gereja Ajak Umat Katolik Lampung Miliki Rasa Solidaritas

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Perayaan Hari Raya Paskah Umat Katolik di Lampung Selatan diisi dengan pembacaan Surat Gembala, atau surat dari Bapa Uskup Keusukupan Tanjungkarang, Mgr.Yohanes Harun Yuwono, Pr.

Dalam pesan Paskah yang dibacakan oleh Pastor Wolfram Safari, Pr saat Misa Paskah di gereja Santo Petrus dan Paulus Pasuruan, Penengahan, ditekankan umat Katolik harus memiliki rasa solidaritas. Solidaritas merupakan sebuah sikap keteladanan yang diberikan Yesus Kristus dalam sengsara, wafat hingga kebangkitan yang dirayakan dalam Paskah. Umat Katolik harus bisa hidup solider seperti Kristus.

Umat yang dengan penuh sukacita merayakan Paskah, karena hidup bersumber dari Kristus yang telah mengalahkan kematian. Melalui Paskah, umat Kristiani diajak untuk menuju kepada kehidupan abadi. Harapan akan kebangkitan tersebut diimani oleh Gereja sejak Perjanjian Lama, salah satunya Nabi Ayub, yang meyakini bahwa setiap orang yang mati akan dibangkitkan dari debu. Selain itu, dari Perjanjian Baru, melalui Santo Paulus, menekankan bahwa kebangkitan Yesus bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan bagi kemuliaan Manusia.

Sifat solidaritas Yesus tersebut sudah diperlihatkan dalam tindakan nyata dengan membagikan daya hidup kepada orang orang sakit agar mereka sehat dan hidup. Dalam Injil, Yesus melalui mukjizatnya menyembuhkan orang sakit karena permintaan dari orang yang bersangkutan. Beberapa diantara mukjizatnya adalah, penyembuhan yang diusulkan oleh orang lain, ada juga yang menyembuhkan dan menghidupkan karena keinginan Yesus.

Guru sekolah minggu membagi telur paskah dan makanan ringan – Foto Henk Widi

“Melalui sejumlah mukjizat tersebut menjadi bukti rasa belarasa atau solidaritas Yesus kepada sesama yang terpinggirkan dan menderita karena Dia mengharapkan manusia bisa mencontoh tindakannya dalam solidaritas kepada sesama manusia,” terang Pastor Wolfram Safari,Pr dalam Misa Paskah di Gereja Santo Petrus dan Paulus Pasuruan, Minggu (21/4/2019).

Melalui sejumlah peristiwa menghidupkan orang yang sudah meninggal dalam Injil, pesan utama Allah melalui Putera-Nya Yesus, menghendaki kebaikan bukan keburukan dalam hidup. Selain itu, pesan lain dari Allah bahwa melalui penyembuhan dan menghidupkan orang mati, Allah memiliki sifat Maha Rahim.

Melalui mukjizat menghidupkan orang mati Yesus memperlihatkan kuasa Allah akan kematian. Sejumlah peristiwa penyembuhan dan menghidupkan orang mati disebut Pastor Wolfram juga tidak memandang status sosial atau kedudukan seseorang. Pada peristiwa penyembuhan orang sakit proses kesembuhan diperoleh oleh si sakit dengan dua hal, yakni karena orang sakit disentuh oleh Yesus dan sebaliknya Yesus yang disentuh oleh orang sakit.

Dalam penyembuhan dan membangkitkan orang mati tersebut, selalu ada dialog agar orang bisa memiliki kehidupan. Dialog tersebut menjadi tanda, adanya solidaritas antara Yesus dan manusia yang kerap mengikuti Yesus dalam setiap pengajaran-Nya. “Kehidupan yang ada kerap harus diperjuangkan bahkan dengan biaya yang mahal, namun kematian tidak terelakkan dan kebangkitan Yesus telah mengalahkan kematian,” terangnya.

Dalam konteks hidup menggereja di Keuskupan Tanjung Karang, Pastor Wolfram menekankan tentang arah dasar keuskupan Tanjung Karang, yang menekankan kehidupan keluarga, maka keluarga bisa menjadi pedoman untuk menciptakan kehidupan.

Selain itu, melalui Paskah, Kasih Kristus harus menghilangkan primordialisme. Orang Kristiani tidak boleh hidup bagi dirinya sendiri. Harus memiliki sikap solidaritas bagi sesama. Allah menghendaki kebaikan bagi sesama, ditandai dengan kasih persaudaraan rela berkorban, menyentuh, menghidupkan. Aksi solidaritas pada perayaan Paskah 2019 dilanjutkan dengan janji baptis untuk menolak hal hal buruk serta penolakan setan. Usai berkah meriah Paskah, stasi Pasuruan melalui kegiatan pembagian bingkisan Paskah.

Yohanes Widodo, Ketua stasi Pasuruan gereja santo Petrus dan Paulus Pasuruan,Kecamatan Penengahan,Lampung Selatan – Foto Henk Widi

Yohanes Widodo, Ketua Stasi Pasuruan menyebut, puluhan paket telur Paskah dibagikan bagi anak-anak sekolah minggu, bina iman remaja, dan Orang Muda Katolik (OMK). Solidaritas dalam bingkisan tersebut mengajarkan kepada anak anak untuk saling berbagi. Gereja berharap, masyarakat bisa meninggalkan sikap sekuler dan hedonis. Menggunakan harta untuk keselamatan, berbagi dengan saudara yang membutuhkan.

“Biasanya anak anak mencari telur Paskah setelah perayaan Ekaristi namun tahun ini dilakukan pemberian telur Paskah dalam paket yang dibagikan,” beber Yohanes Widodo.

Selain pembagian paket bingkisan Paskah, umat yang hadir membawa nasi bungkus. Setiap keluarga membawa lima nasi bungkus ditambah satu bungkus yang akan dibagikan kepada tamu yang hadir dari stasi lain. Kegiatan makan bersama, usai perayaan Paskah menjadi bentuk rasa solidaritas karena umat melakukan makan bersama. Kebersamaan tersebut menjadi upaya mempertemukan umat Katolik yang bertemu saat liburan Paskah.

Lihat juga...