Penyintas Tsunami di Huntara Sukaraja Lamsel Minta Tambahan Sanitasi

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Keberadaan hunian sementara (huntara) sangat membantu bagi sejumlah penyintas tsunami di Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel). Yang sudah ditempati di antaranya sebanyak 20 unit di Desa Banding, 27 di Desa Sukaraja, 23 di Desa Way Muli Induk serta di Desa Kunjir yang seluruhnya berada di Kecamatan Rajabasa.

Rofiah (60) dan Yuliana (34) dua ibu rumah tangga di huntara desa Sukaraja menyebut saat ini disediakan tiga unit kamar mandi sekaligus toilet. Keberadaan sanitasi tersebut cukup membantu penyintas tsunami. Meski demikian bagi kaum perempuan fasilitas tersebut masih belum memadai. Sebab sejumlah perempuan harus melakukan aktivitas mencuci, memasak dan aktivitas lain memanfaatkan kamar mandi sekaligus toilet.

“Penghuni sebagian merupakan warga yang kehilangan rumah tempat tinggal sehingga menetap sementara dengan keterbatasan fasilitas untuk digunakan bersama,” terang Rofiah salah satu penyintas tsunami yang tinggal di huntara Sukaraja saat ditemui Cendana News, Jumat (12/4/2019)

Idealnya dibutuhkan sekitar 10 unit toilet menyesuaikan jumlah kepala keluarga yang ada di huntara tersebut. Usulan kepada pihak desa sekaligus sejumlah donatur sudah disampaikan meski keterbatasan dana menjadi kendala.

Rofiah juga menyebut fasilitas saluran air yang memadai membuat penyintas tsunami di huntara Sukaraja mudah memperoleh akses air bersih. Meski air cukup bersih untuk kebutuhan minum dan memasak sebagian warga memilih memakai air isi ulang.

“Sebetulnya air dari gunung Rajabasa cukup higienis namun agar daya tahan tubuh tetap maksimal kami meminum air galon isi ulang,”beber Rofiah.

Afendi, Kepala Bidang Penanggulangan Bencana, BPBD Lampung Selatan. Foto: Henk Widi

Penerapan kebersihan di huntara juga mendapat perhatian dari sanitarian Puskesmas Rajabasa. Budi Riyanto, sanitarian Puskesmas Rajabasa menyebut sosialisasi pola hidup bersih dan sehat (PHBS) terus dilakukan. Sosialisasi tersebut diantaranya dengan mengajak penghuni huntara untuk tetap menjaga kebersihan dengan menyediakan tempat sampah, tidak membuang sampah sembarangan. Selain itu ia menyebut saat musim hujan penghuni juga harus rutin membersihkan genangan air yang berpotensi terjadi.

“Potensi jentik nyamuk ada di bak penampungan bekas tambak yang ditinggal penghuni dan sudah dikuras,” tutur Budi Riyanto.

Ia juga menyebut meski fasilitas toilet terbatas ia memastikan tetap mengimbau warga agar tidak melakukan buang air besar sembarangan (BABS), Karena berpotensi menimbulkan penyakit.

Pentingnya tambahan fasilitas sanitasi terutama toilet diakui Afendi, kepala bidang Penanggulangan Bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamsel. Ia menyebut air yang lancar dari gunung Rajabasa membuat penghuni huntara bisa melakukan pembersihan dengan baik. Ia menyebut saat ini fasilitas toilet masih terbatas namun masih bisa dimanfaatkan oleh warga. Fasilitas tersebut harus tetap bisa dipertahankan untuk menjaga kesehatan selama di huntara.

Lihat juga...