Penanaman Sistem Polikultur Pertahankan Pasokan Air Sekaligus Investasi
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
LAMPUNG — Kearifan lokal masyarakat Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) dalam mempertahankan lingkungan masih terus dilestarikan sejak ratusan tahun silam. Salah satu sistem penanaman kayu dengan sistem polikultur menjadi cara yang kaya manfaat sekaligus investasi.
Sanari (50), warga setempat menyebutkan, sistem penanaman berbagai jenis tanaman dalam satu lahan di wilayah sekitar Gunung Rajabasa memberi sumber penghidupan sekaligus sumber pasokan air. Seperti pohon endemik yang mulai langka keberadaannya, di antaranya weru atau kihiang (Albizia procera), medang (Phoebe), bayur (pteospermum) hingga jati (terctona grandis).
“Berdasarkan sejarah, di sejumlah wilayah beberapa jenis pohon yang ditanam sudah ada sejak masa kakek kami tidak boleh ditebang karena menjadi sumber mata air. Mereka menyebar secara alami di wilayah sekitarnya,“ terang Sanari, Rabu (3/4/2019)
Disebutkan, Weru dan Gondang, jenis tanaman yang hidup di tepi aliran sungai tidak boleh ditebang karena sebagai sumber pasokan air. Sementara kayu lain yang dimanfaatkan sebagai bahan bangunan yakni medang, jati serta bayur dengan memperhatikan usia pohon.
“Saat proses penebangan pada beberapa jenis pohon maka akan mempercepat tanaman lain sekaligus mengganti dengan tanaman baru,”beber Sanari.
Menanam pohon, selain menjaga keseimbangan lingkungan menjadi sumber investasi. Jenis medang dan bayur memiliki harga cukup menjanjikan. Per kubik bayur yang merupakan jenis kayu merah bisa dihargai Rp3juta hingga Rp4juta dan medang seharga Rp4juta hingga Rp5juta.
“Bahan kayu yang sudah siap diolah menjadi bahan bangunan bahkan bisa lebih melonjak. Penjualan dengan sistem borongan membuat pemilik bisa mendapatkan uang puluhan juta untuk beberapa batang,” sebutnya.
Burhanudin (60) warga lain yang masih mempertahankan penanaman sistem polikultur mengaku mendapatkan banyak manfaat. Meski sebagian lahan sudah dirombak menjadi tempat penanaman pohon yang cepat panen seperti sengon ia tetap mempertahankan tanaman lama.

Pada lahan yang sudah dibersihkan ia juga masih mempertahankan rumput liar sebagai sumber pakan ternak kambing miliknya. Kambing yang merupakan mamalia ruminasia tersebut diberinya pakan tanaman leresede, daun jati ambon, nangka serta mindi.
“Sejumlah tanaman bisa dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak kambing termasuk rumput sehingga tidak pernah disemprot,”beber Burhanudin.