Pascaserangan Malam Hari, Suara Ledakan Keras Terdengar di Tripoli
TRIPOLI – Sebuah suara ledakan keras mengguncang Ibu Kota Libya, Tripoli, pada Sabtu (20/4/2019) larut malam.
Warga setempat menyebut, ledakan terdengar, setelah terjadinya satu serangan udara. Serangan tersebut menjadi peningkatan serangan selama dua-pekan oleh pasukan Libya Timur, terhadap kota yang dikuasai oleh pemerintah yang diakui masyarakat internasional.
Saksi mata mengatakan, mereka melihat satu pesawat berkeliling selama lebih dari 10 menit di atas ibu kota Libya. Dengan suara menderu, sebelum melepaskan tembakan ke pinggir selatan Tripoli, tempat pertempuran paling sengit berkecamuk antara pasukan yang bertikai.
Belum dapat dikonfirmasi, apakah pesawat nir-awak yang berada di belakang serangan, yang memicu tembakan gencar anti-pesawat. Warga telah melaporkan serangan pesawat tanpa awak dalam beberapa hari belakangan ini.
Warga menghitung beberapa serangan rudal yang tampaknya menghantam kamp pasukan militer, yang setia kepada pemerintah di Tripoli di Kabupaten Sabaa. Pemerintah menutup satu-satunya bandar udara yang berfungsi di Tripoli. Pasukan Tentara Nasional Libya (LNA), yang setia kepada komandan Khalifa Haftar, memulai serangan dua pekan lalu. Namun mereka, tidak bisa menembus pertahanan pemerintah di bagian selatan Tripoli.
Jika serangan pesawat nir-awak dikonfirmasi, itu akan menunjuk kepada perang yang melibatkan peralatan yang lebih canggih. LNA sejauh ini telah menggunakan jet buatan bekas Uni Sovyet dari Angkatan Udara Muammar Gaddafi, yang digulingkan pada 2011. Pesawat tersebut kekurangan daya ketepatan. “LNA juga menggunakan helikopter,” kata warga dan sumber militer setempat.
Pada masa lalu, Uni Emirat Arab dan Mesir, telah mendukung Haftar selama upaya untuk merebut Libya Timur. Kedua negara tersebut melancarkan serangan udara ke Tripoli pada 2014, setelah konflik lain untuk membantu pasukan yang bersekutu dengan Haftar.
PBB menyebut, sejak 2014, Uni Emirat Arab dan Mesir telah menyediakan perlengkapan militer buat LNA seperti pesawat dan helikopter, dan membantu Haftar meraih keunggulan dalam konflik delapan-tahun di Libya. Sebuah laporan di 2017 menyebut. Uni Emirt Arab bahkan membuat satu pangkalan udara di Al Khadim di Libya Timur.
Serangan udara itu, yang juga direkam oleh warga dan disiarkan di dalam video daring, dilancarkan sehari setelah bentrokan sengit di beberapa kabupaten Tripoli Selatan, dan suara ledakan terdengar di pusat kota.
Kerusuhan meningkat setelah Gedung Putih pada Jumat (19/4/2019) mengatakan, Presiden AS Donald Trump berbicara dengan Haftar pada awal pekan lau. Pengungkapan mengenai percakapan tersebut dan satu pernyataan AS yang mengatakan, AS mengakui peran penting Marsekal Medan Haftar dalam memerangi terorisme dan mengamankan sumber minyak Libya, telah mendorong pendukung komandan Libya Timur itu dan membuat marah lawannya.
Negara Barat dan Teluk telah terpecah mengenai desakan oleh pasukan Haftar untuk menguasai Tripoli, sehingga merusak seruan gencatan senjata oleh PBB. Kedua pihak yang bertikai mengklaim kemajuan di Tripoli Selatan pada Sabtu, tapi tidak merinci lebih lanjut keterangan yang diberikan. (Ant)