KPU NTB Pastikan Petugas yang Sakit dan Meninggal Dapat Santunan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

Komisioner KPU Provinsi NTB, Yan Marli. Foto : Turmuzi

MATARAM — Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Yan Marli memastikan, semua petugas Kelompok Petugas Pemungutan Suara (KPPS) maupun Panitia Pemungutan Suara (PPS) yang sakit dan meninggal akan mendapatkan santunan.

“Sebagaimana daerah lain, petugas KPPS dan PPS sakit maupun meninggal di NTB juga mendapatkan santunan, dengan nilai dan besaran yang sama,” kata Yan Marli di Mataram, Jum’at (26/4/2019).

Dikatakan, KPU hingga saat ini terus melakukan pendataan jumlah petugas yang sakit maupun meninggal di seluruh kabupaten kota NTB untuk selanjutnya diusulkan kepada KPU pusat.

Diakuinya, pada pelaksanaan Pemilu serentak 2019 sekarang KPU tidak bisa menutup mata, beban kerja yang dipikul petugas pemungutan suara di lapangan sangat besar. Ini tentu akan menjadi masukan ke pusat untuk dilakukan evaluasi.

“Mengusulkan supaya pada Pemilu mendatang Pemilu Presiden dan DPR dipisah, sehingga beban kerja para petugas lapangan tidak seberat sekarang dan sampai menimbulkan korban jiwa,” katanya.

Masalah lain yang perlu menjadi bahan evaluasi adalah terkait kemudahan memilih dengan waktu lama. Banyak masyarakat mengaku kesulitan mencoblos, karena lama membuka suarat suara selebar koran. Belum lagi harus mencari calon yang hendak dicoblos.

“Apalagi orang tua yang buta aksara sangat mengalami kesulitan, sudah surat suara besar, calon dipilih banyak dan tidak bisa membaca. Selama ini yang diberikan pendampingan disabilitas, bagaimana dengan tunaaksara, masukan dari kami didengarkan, tuna aksara bisa didampingi,” tambahnya.

Sebelumnya, Ketua KPU NTB, Suhardi Soud juga mengaku kalau Pemilu 2019 adalah proses paling berat yang dirasakan oleh petugas PPS. Di NTB, petugas meninggal dunia karena kelelahan, keguguran bahkan ada yang kehilangan bayinya yang berusia 5 bulan saat bertugas mengawal pemilihan umum.

Salah satu petugas yang meninggal adalah Sanapiah (49), Ketua KPPS 6 Desa Jotang, Kecamatan Empang, Kabupaten Sumbawa. Ia dilaporkan meninggal dunia Senin 22 April 2019 sekitar pukul 18.30 setelah mengeluh rasa sakit di ulu hatinya.

Sekertariat PPS asal Paok Motong, Lombok Timur, Andriana (22) dilaporkan juga dilaporkan keguguran karena kelelahan. Usia kandungan Andriana baru berusia 5 bulan.

Berdasarkan data KPU NTB, tercatat 113 orang petugas KPPS yang dilaporkan sakit. KPU NTB telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk membantu menyiapkan petugas medis di setiap PPK yang tersebar di NTB.

Lihat juga...