JKJT: Anak-anak Paling Banyak Jadi Korban Bencana

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

MALANG —  Ketua umum Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT), Agustinus Tedja Bawana mengatakan, dalam menghadapi kemungkinan bencana yang bisa terjadi kapan saja, perlu dipersiapkan anak tangguh bencana untuk meminimalisir jatuhnya korban anak-anak.

“Karena berdasarkan pengalaman kami di daerah bencana, yang paling banyak menjadi korban adalah anak-anak,” terangnya usai memberikan edukasi sekaligus simulasi evakuasi tanggap bencana gempa, di sekolah Bina Budi Mulia, Jumat (26/4/2019).

Menurutnya, dalam simulasi tersebut, hal yang perlu diperhatikan para siswa adalah titik mana saja yang berbahaya dan perlu dihindari, serta bagaimana cara menyelamatkan diri pada saat terjadi gempa.

“Gempa terjadi dalam hitungannya detik, jadi mereka harus bisa membentengi diri dengan berlindung di bawah meja dan menghindari material bangunan yang bisa jatuh seperti penyanggah bangunan maupun kaca,” ujarnya.

Selain itu Tedja juga meminta kepada kepala sekolah untuk membuat simulasi tidak hanya sebagai seremonial saja tetapi harus dilakukan minimal sebulan sekali. Tujuannya, murid dan guru bisa sama-sama tangguh bencana. Termasuk juga menyediakan jalur evakuasi untuk bisa menyelamatkan diri.

“Mengingat letak Indonesia yang berada di ring of fire, sehingga kita harus terus siaga dengan kemungkinan terjadinya gempa. Tidak perlu takut dengan bencana, kita harus membuat mereka bersahabat dengan bencana dan tersiapkan apabila terjadi bencana,” ungkapnya.

Lebih lanjut kepala sekolah SD Bina Budi Mulia, Asmaji, menyampaikan, sosialisasi tanggap bencana memang perlu dilakukan tidak hanya sekali tapi berulang kali agar anak-anak terbiasa.

“Justru kalau para siswa diberikan penekanan seperti ini mereka pasti ingat. Kami berharap kegiatan ini bisa memberikan pembelajaran bagi anak-anak, agar mereka nanti ketika ada bencana mereka sudah benar-benar siap. Selain kegiatan hari ini, kami juga pernah melaksanakan sosialisasi tentang kebakaran,” tandasnya.

Ketua umum JKJT, Agustinus Tedja Bawana (tengah) bersama Kadindik kota Malang dan kepala sekolah Bina Budi Mulia. Foto: Agus Nurchaliq
Sementara itu, kepala dinas pendidikan kota Malang, Zubaidah, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya pengetahuan tentang bencana memang perlu diberikan sejak dini.

“Anak-anak kalau diberi ilmu pasti mudah ditangkap dan diingat hingga dewasa akan terus melekat. Sehingga pada saat tertentu bisa mengantisipasi untuk mengamankan diri,” terangnya.

Disampaikan Zubaidah, sebenarnya kurikulum tanggap bencana sudah ada, dan sudah beberapa sekolah yang melaksanakan.

“Simulasi tanggap bencana ini memang sangat diperlukan. Minimal untuk pengetahuan bagi mereka bagaimana menyelamatkan diri jika ada bencana,” pungkasnya.

Lihat juga...