INDEF: RPJMN 2014-2019, tak Perhitungkan Tantangan Ekonomi Global
Editor: Koko Triarko
JAKARTA – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), mengimbau pemerintah agar dapat menyusun rancangan dan target pertumbuhan ekonomi dengan matang. Ekonom Senior INDEF, Fadhil Hasan, mengatakan, biasanya capres dalam menyusun program ekonominya jarang sekali menyusun faktor eksternal, yang sangat berpengaruh terhadap kinerja perekonomian nasional.
“Pada 2014, masih ingat, kan? Salah satu capres menargetkan pertumbuhan ekonomi 7 persen. Tapi, ternyata ekonomi tumbuh 5 persen,” kata Fadhil, dalam acara diskusi pemanasan debat kelima, di Jakarta, Kamis (11/4/2019).
Menurutnya, target tersebut tidak tercapai, karena dalam menyusun Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2014-2019, tidak memperhitungkan tantangan ekonomi global dalam jangka pendek dan menengah.
Dia mengatakan, besarnya disparitas dan realisasi pertumbuhan ekonomi akibat perencanaan yang tidak matang. “Saat itu, pemerintah tidak memperhitungkan faktor-faktor global. Ternyata harga komoditas turun, lalu ada fenomena normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Indonesia sebagai negara dengan ekonomi terbuka, faktor eksternal sangat berpengaruh,” tukasnya.
Dia mengimbau, agar para capres-cawapres mengetahui dinamika global dengan tepat. Baik itu jangka pendek maupun menengah. Karena ini akan menentukan, apakah kondisi global mampu atau tidak mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk terus meningkat.
Apalagi, sebut dia, ekonomi dunia dalam tiga tahun mendatang diprediksi kurang bergairah. Awal 2019, Dana Moneter Internasional (IMF) telah mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2019 dari 3,7 persen menjadi hanya 3,3 persen.
Sehingga, menurutnya, ada kemungkinan resesi ekonomi di AS dalam 2 hingga 3 tahun ke depan. Hal ini sedikit banyak akan mempengaruhi ekonomi dunia.
“Indonesia sebagai negara berkembang, tidak menutup kemungkinan akan ikut terdampak,” ujarnya.
Selain di AS, jelas dia, Cina juga tengah mengalami perlambatan ekonomi. Dalam tiga dekade ke belakang, ekonomi Cina bisa tumbuh dua digit. Namun, saat ini hanya sekitar 6,2-6,3 persen. Ini sangat signifikan dan berdampak ke Indonesia, karena Cina merupakan mitra ekspor terbesar.
Namun di sisi lain, penurunan harga komoditas di pasar global harus menjadi perhatian. Mengingat 60 persen ekspor Indonesia masih mengandalkan komoditas mentah daripada barang jadi. Karena itu, ekspor komoditas tidak bisa dijadikan sebagai sumber perekonomian dalam jangka waktu 2-3 tahun ke depan.
Ekonom senior INDEF, Nawir Messi, menambahkan, pemerintah ke depan jangan sebatas membanggakan revolusi industri 4.0 tanpa persiapan sumberdaya manusia (SDM) yang memadai.
Jika tidak diimbangi upaya perbaikan kualitas tenaga kerja, khususnya tingkat pendidikan, kata Nawir, peta revolusi industri 4.0 hanya sekadar menjadi rencana.
“Boro-boro industri 4.0, 00 saja di kampung-kampung itu orang nggak ngerti. Omong kosong 4.0 kalau angkatan kerja kita saja masih didominasi lulusan sekolah dasar,” tukasnya.
Nawir mempertanyakan, revolusi industri ini bagaimana penyiapan dan antisipasi dampak negatifnya. “Nah, inilah yang harus dijawab dan dipaparkan oleh capres dan cawapres yang akan berdebat pada 13 April mendatang,” ujarnya.