Dianggap tak Bergizi, Templek Khas ‘Panginyongan’ Selalu Diburu

Editor: Koko Triarko

BANYUMAS – Selain mendoan, makanan khas Banyumas yang digoreng lainnya adalah templek atau ada juga yang menyebutnya ranjem. Makanan berbentuk bulat kecil dan gurih ini, banyak yang menganggapnya tidak bergizi, namun selalu dicari dan digemari.

Templek dianggap tidak bergizi, karena terbuat dari sisa ampas tahu atau sisa ampas pembuatan tahu. Ampas tahu tersebut diberi bumbu bawang putih, merica dan garam. Setelah tercampur rata, dibentuk bulatan kecil-kecil.

Bulatan kecil tersebut kemudian dibaluri dengan adonan tepung terigu, adonan ini sama persis seperti adonan untuk membuat mendoan. Setelah dicelupkan ke dalam adonan tepung terigu, kemudian digoreng hingga kering. Rasanya gurih dan orang panginyongan atau orang Banyumas biasa mengkonsumsi templek untuk lauk makan atau pun untuk camilan.

Ibu Riyanto, penjual templek di Desa Petir, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas. –Foto: Hermiana E. Effendi

Salah satu penjual templek, Ibu Riyanto, warga Desa Petir, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, mengaku sudah bertahun-tahun berjualan templek. Dalam satu hari, ia memasak 10 kilogram ampas tahu untuk dibuat templek.

“Sebanyak 10 kilogram ampas tahu itu bisa dibilang banyak, bisa juga sedikit. Kalau dimasak jadi tempek, jelas hasilnya ada ratusan biji templek,” tutur Bu Riyanto, Sabtu (6/4/2019).

Ibu dua anak ini biasa berjualan templek di Pasar Desa Petir. Untuk satu plastik templek berisi 10 biji, dijual dengan harga Rp2.500. Biasanya, orang membeli minimal 4-5 plastik templek.

Disinggung tentang banyaknya anggapan templek tidak mengandung gizi, Bu Riyanto mengatakan, bahan bakunya memang dari sisa ampas pengolahan tahu, sehingga wajar jika tidak mengandung gizi.

Namun, lanjutnya, penggemar makanan tersebut sangat banyak, karena merupakan makanan khas yang sudah  turun-temurun puluhan tahun.

“Dulu templek identik dengan makanan orang desa, yang tidak punya uang, lalu mengolah sisa ampas tahu untuk lauk makan. Tetapi sekarang, templek sudah digemari juga oleh orang kota, terbukti pada tiap penjual gorengan, pasti mereka juga menjual templek,” jelasnya.

Setiap hari, Bu Riyanto berjualan templek di Pasar Desa Petir mulai pagi hari hingga menjelang siang. Namun, saat hari Minggu, ia mengaku pindah berjualan di Pasar Kuna Lereng, pasar tradisional yang dikemas sebagai tempat wisata juga di Desa Petir.

Jika berjualan di Pasar Kuna Lereng, Bu Riyanto mengaku mendapat keuntungan lebih banyak, karena untuk satu kantong plastik templek dengan isi yang sama, ia bisa menjual dengan harga Rp4.000.

“Di Pasar Kuna Lereng itu kemasannya wisata pasar tradisional, sehingga pengunjung banyak dari luar desa dan saya bisa menjual templek dengan harga lebih mahal, pembeli tidak ada yang protes. Berbeda dengan berjualan di pasar desa, jika menaikkan harga, tentu akan ditinggal pembeli,” pungkasnya.

Lihat juga...