Di Bali, Bakso Khas Jawa Timuran Disukai

Editor: Koko Triarko

DENPASAR – Bakso merupakan kuliner yang sudah familiar di Indonesia. Berbagai jenis bakso dari berbagai daerah pun sering dijumpai. Misalnya, Bakso Solo, Bakso Malang, Bakso Cuanki Bandung, Bakso Blitar dan masih banyak bakso lainnya.

Pada umumnya, Bakso terbuat dari daging sapi, atau ayam giling dengan tambahan daging cincang sebagai isiannya. Namun, ada juga yang menggunakan ikan atau jenis daging lainnya.

Dalam penyajiannya, bakso umumnya disajikan panas-panas dengan kuah kaldu sapi bening, dicampur mie, bihun, taoge, tahu, terkadang telur dan ditaburi bawang goreng dan seledri.

Eva, penjual bakso keliling di Denpasar. -Foto: Sultan Anshori.

Di Bali, khususnya di kota Denpasar, bakso yang terkenal adalah bakso yang berasal dari Jawa Timuran. Sebut saja Eva, salah seorang penjual bakso keliling di Denpasar, mengakui bakso yang ia jual sangat banyak peminatnya. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya bakso yang ia buat laku habis terjual setiap hari.

“Ya, rata-rata kami buat sekitar 500 hingga seribu porsi. Kami jual mulai pukul 11 siang hingga pukul 6 sore,” ucap Eva, saat ditemui pada Sabtu (6/4/2019).

Eva menambahkan, bakso yang paling banyak dicari selain bakso daging sapi adalah bakso daging ayam. Lantaran sebagian masyarakat pembelinya orang Bali yang kebetulan tidak mengkonsumsi daging sapi.

Untuk memperkaya rasa, bakso yang ia buat dilengkapi dengan bakwan dan kerupuk pangsit. Bakwan dan kerupuk pangsit ini dibuat dengan isian daging sapi cincang. Satu porsi dijual dengan harga sepuluh ribu rupiah.

Hamidah, salah seorang penggemar bakso mengaku, suka mengkonsumsi bakso lantaran bakso banyak mengandung protein dan lemak yang bagus untuk asupan gizi sehari-hari.

Ia bisa membeli hampir tiap hari. Bisa dikonsumsi bersama nasi untuk menjadi lauk pauk. Atau pun dikonsumsi secara langsung. “Ya, ketimbang beli bakso instan, ini lebih fresh dagingnya. Harganya relatif cukup murah,” katanya.

Bakso sendiri bukan asli kuliner Indonesia. Sejarah bakso bermula pada awal abad ke-17 akhir Dinasti Ming di Fuzhou. Hidup seorang anak yang bernama Meng Bo yang tinggal di sebuah desa kecil. Meng Bo terkenal sebagai anak yang baik dan berbakti kepada ibunya. Kebaikan dan kebaktiannya sudah terkenal di antara para tetangganya.

Hingga suatu hari, ibunya yang mulai tua tak dapat memakan daging, sebab giginya sudah mulai tidak dapat makan makanan yang sifatnya keras, seperti daging. Padahal, daging adalah makanan kesukaan ibunya.

Sebab itulah, Meng Bo berinisiatif membantu agar ibunya dapat makan daging yang menjadi kesukaannya. Sepanjang malam, Meng Bo memikirkan caranya mengolah daging yang keras, agar dapat dimakan oleh ibunya. Hingga suatu ketika, Meng Bo melihat tetangganya menumbuk beras ketan untuk dijadikan kue mochi.

Melihat hal itu, Meng Bo langsung pergi ke dapur dan mengolah daging seperti cara tetangganya membuat olahan kue mochi. Setelah daging empuk, Meng Bo membentuknya seperti bulatan-bulatan kecil, agar ibunya mudah untuk memakannya, dari aroma rebusan olahan daging itu tercium aroma yang sangat lezat. Sehingga Ibunya penasaran dengan aroma kaldu daging yang dibuat oleh Meng Bo itu, dan ingin mencicipi makanan yang memiliki aroma sedap itu.

Lihat juga...