BNPB: Tren Bencana di Indonesia Terus Meningkat
Editor: Koko Triarko
MALANG – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letnan Jenderal Doni Monardo, menyebutkan, tren bencana di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya.
“Data 2018 menunjukkan, setidaknya telah terjadi bencana sebanyak 2.572 kali peristiwa ,yang mengakibatkan korban jiwa sebanyak 4.814 orang meninggal dan hilang, 21.064 orang mengalami luka-luka dan 10,2 juta orang mengungsi,” sebutnya, saat menghadiri Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) di Lapangan Rampal, Selasa (30/4/2019).
Selain itu, lanjutnya, bencana juga telah menyebabkan kerugian mencapai lebih dari Rp100 triliun. Dan, korban jiwa pada periode 1 Januari-1 April 2019, telah mencapai 438 orang.

Ia mengatakan, konsep penta helix adalah salah satu solusi untuk memperkecil risiko terjadinya bencana. Terdapat lima pihak yang harus diajak serta menanggulangi bencana, yakni para pakar, pelaku dunia usaha, komunitas, media, dan pemerintah.
“Menyadari hal tersebut, sejak 2017 BNPB menginisiasi suatu gerakan peningkatan kesadaran dan kesiapsiagaan nasional untuk menghadapi bencana dalam bentuk Hari Kesiapsiagaan Bencana setiap 26 April,” terangnya.
Slogan siap untuk selamat dengan mengedepankan lima hal, yaitu pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, dan peringatan dini serta peningkatan kapasitas, baik kelembagaan maupun sumberdaya manusia dan penguatan anggaran.
Ia menegaskan, HKB bukan kegiatan seremonial, tetapi mengedepankan aksi nyata berupa pemerikasaan keberadaan dan keberfungsian kelengkapan sarana dan prasarana keselamatan. Termasuk juga melatih evakuasi dengan tenang dan tidak panik, merupakan kunci keberhasilan dalam menghadapi ancaman bencana.
“Berdasarkan catatan para pakar, beberapa bencana di Indonesia kerap terjadi berulang. Ada yang periodesasinya setiap tahun, lim tahunan, 10 tahunan, 100 tahunan, bahkan ribuan tahun. Longsor, banjir, dan kebakaran hutan merupakan bencana yang kerap berulang setiap tahun,” ucapnya.
Karenanya, dalam melakukan edukasi kebencanaan, pendidikan dini wajib dilakukan mulai dari rumah. Untuk itu, peran ibu dan perempuan menjadi sangat penting. Perempuan sebagai guru kesiapsiagaan dan rumah sebagai sekolahnya.
“Perempuan dan ibu dipilih, karena memiliki sifat melindungi dan merupakan sosok pembelajar,” terangnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang turut hadir dalam acara tersebut, meminta agar semua pihak untuk memperkuat sinergitas dan kapasitas dalam menghadapi bencana. Termasuk integritas di antara relawan juga perlu ditingkatkan.
“Desa tangguh dan kampung siaga bencana yang ada di Jawa Timur harus terus diperkuat. Kita perkuat mitigasi dan sensitivitas kita, ketika melihat gejala-gejala alam yang berbeda dari kebiasaan sebelumnya,” ujarnya.
Menurutnya, hal itu perlu dilakukan untuk mengurangi risiko jumlah jatuhnya korban akibat terjadinya bencana.