Angka Stunting di Balikpapan Tersisa 18 Persen

Editor: Mahadeva

BALIKPAPAN – Dinas Kesehatan Kota Balikpapan mencatat, kasus stunting di daerah tersebut mengalami penurunan. Jika sebelumnya mencapai 30,2 persen, di 2018 lalu angkanya turun menjadi 18,2 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan Balerina JPP – Foto Ferry Cahyanti

Di April ini masih terdapat 2.011 kasus stunting balita, dan sekira 3.000-an kasus stunting pada anak usia sekolah. Data tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Balerina, merujuk pada data Pusat Data dan Informasi (Pusdatin).  “Agar pencegahan stunting dapat lebih terarah dan program dilaksanakan maka diperlukan sinergi dalam penanggulangan,” tandasnya, Selasa (30/4/2019).

Beberapa masalah yang perlu ditindaklanjuti ke pemerintah pusat, seperti masalah pertahanan atau pemberian “Fe” atau penambah darah kepada remaja putri. “Semuanya perlu dilakukan, karena pemberian penambah darah dilakukan pada remaja putri. Sementara SMA atau SMK menjadi kewenangan provinsi,” ucap Balerina.

Dengan kondisi tersebut, perlu dilakukan koordinasi dengan semua pihak. Termasuk dengan Puskesmas yang melakukan pendataan kondisi di lingkungan secara langsung. “Pemberian Fe, dilakukan agar anemia tidak berkelanjutan dan menjadi kronis. Kalau sudah kronis dampaknya, saat memiliki keturunan bisa memunculkan anak stunting, lantaran ibunya kurang gizi,” ujar Balerina.

Pemerintah pusat memiliki baseline data 2017, angka stunting nasional 37 persen. Di 2018 sudah turun menjadi 30 persen. Pola integrasi konvergensi, bisa menurunkan angkanya lebih cepat. Angka progresif minimal lima tahun diyakini bisa didapatkan.

Lihat juga...