WAI Kelola Sampah Metode ‘Tentara Lalat Hitam’
Editor: Koko Triarko
BEKASI – PT . Wasteforchange Alam Indonesia (WAI), mengembangkan jasa pengolahan sampah di Kota Bekasi, melalui metode tentara lalat hitam atau Black Soldier Fly (BSF), dalam penguraian sampah organik menjadi kompos. Sistem tersebut sekaligus melakukan pembudidayaan dan pembibitan lalat hitam.
“BSF adalah sistem pengolahan sampah menggunakan lalat hitam untuk menghasilkan pupuk organik,” jelas Khairunnisa Yusmalina Humaam, Officer PT WAI, Rabu (6/3/2019).
Menurutnya, pengolahan sampah menjadi kompos menggunakan tentara lalat hitam, melalui ternak di kandang khusus. Telur dari lalat yang diternak akan menjadi cikal bakal belatung (magget), setelah melalui proses.

Ada pun prosesnya, lalat hitam dimasukkan ke dalam kandang untuk dikawinkan, lalu bertelur setelah menjadi bayi, maka akan dipisahkan dengan dimasukkan ke dalam boks khusus yang telah diisi sampah organik, seperti sisa makanan dan lainnya.
Setelah itu, didiamkan di dalam boks selama dua belas hari sebelum dipanen. Dari bayi lalat hitam tersebut, setelah dua belas hari di dalam boks khusus, maka akan menjadi magget (belatung) dan kompos sisa dari penguraian sampah yang dilakukan selama dua belas hari tadi.
“Belatung ini akan menjadi alternatif pakan ternak, sedangkan kompos bisa digunakan untuk pupuk tanaman. Kami memiliki dua kandang, khusus untuk perkawinan lalat hitam sampai bertelur,” jelas Khairunnisa, yang mengaku dua belas hari sekali panen magget dan kompos.
Magget, ungkap Khairunnisa, bisa dua tujuan dijual sebagai altenatif pakan ternak, atau dikembangbiakkan lagi. Jika dikembangkanbiakkan, maka fasenya setelah magget, akan menjadi kepompong, dan setelah itu pasti akan berubah menjadi lalat hitam, maka akan diletakkan ke dalam kandang untuk bertemu jantan atau betina.
Menurutnya, proses ternak lalat hitam di dalam kelambu khusus hingga bertelur, membutuhkan waktu selama dua minggu. Sedangkan proses total BSF dari mulai telur hingga bertelur lagi memakan waktu selama 40 hari.
Lalat tentara hitam, warnanya hitam, bentuk lebih besar dari pada lalat hijau pada umumnya, lalat tentara hitam berbeda dengan lalat hijau.
Pertama, tegas Khai, lalat BSF tidak membawa penyakit, bukan sebagai vector penyakit, lalat ini tidak akan hinggap di makanan. Lalat hitam tidak akan bertebaran ke mana mana, karena pada waktunya pada batas akhir 40 hari akan mati sendiri.
Lebih lanjut, dia mengatakan, bahwa dari sekira 10 kg sampah, dalam satu boks selama 12 hari, susutnya mencapai 90 persen terurai. Yang dimasukkan ke dalam boks tersebut sekitar dua gram bayi lalat sebelum menjadi magget, ukurannya sekira satu centong nasi.
PT WAI selain mengembangkan jasa pengolahan sampah menggunakan sistem BSF, juga mengolah sampah pengomposan pada umumnya. PT WAI mengelola sampah di kawasan Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi.
“Fokus menjual kompos, juga melakukan edukasi, dalam sebulan belatung bisa terjual 50 kilogram dengan harga Rp5 ribu/ kilogram. Belatung selalu setiap hasil panen akan dibagi dua, sebagian dijual dan sebagian untuk dikembangbiakkan,” katanya.
PT WAI juga menyediakan berbagai program sebagai jasa pengolahan sampah, dengan memberi edukasi kunjungan satu hari dengan pengenalan fasilitas dan budi daya BSF. Program edukasi melalui paket satu hari, lima hari, 21 hari, dengan menyediakan trainer berpengalaman, modul dan aula pelatihan.