TAGANA-TNI dan Relawan Tata Kawasan Pantai Mangrove
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Taruna Siaga Bencana (Tagana) Lampung Selatan, bersinergi dengan sejumlah unsur, melakukan kegiatan gotong royong pengelolaan pantai mangrove.
Sekretaris Tagana Lamsel, Hasran Hadi, menyebut gotong royong dilakukan di kawasan hutan mangrove di Dusun Kuala Jaya, Desa Bandaragung, Kecamatan Sragi. Pengelolaan pantai mangrove dilakukan dengan pembuatan akses jalan, pembersihan area pesisir mangrove dan penanaman bibit mangrove.
Menurutnya, penataan pantai mangrove pesisir Kuala Jaya tersebut juga melibatkan Kampung Siaga Bencana (KSB) Harapan Baru, Jagawana Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Pelopor Tagana, TNI Koramil 0421-08 Palas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta unsur masyarakat.

Sebelumnya, kawasan pantai mangrove di wilayah tersebut dipertahankan masyarakat untuk melindungi kawasan perkampungan yang berbatasan dengan Kabupaten Lampung Timur. Saat gelombang tinggi dan angin kencang, potensi abrasi bisa dicegah berkat keberadaan tanaman mangrove.
“Berbagai langkah dilakukan oleh berbagai unsur di kawasan pesisir pantai Lampung Selatan untuk mencegah abrasi, termasuk bencana yang lebih besar seperti tsunami yang kemarin melanda,” terang Hasran Hadi, saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu (30/3/2019).
Kesadaran masyarakat untuk menjaga kawasan pesisir pantai timur Lampung, sebut Hasran Hadi, mulai meningkat. Kawasan pantai Kecamatan Sragi menjadi salah satu kawasan rawan bencana, karena berada di dekat pantai, sekaligus berada di dekat muara Way Sekampung.
Salah satu bencana alam yang melanda wilayah tersebut, di antaranya angin puting beliung dan banjir luapan Way Sekampung. Melalui penyadartahuan potensi bencana alam, ia berharap risiko bencana bisa diminimalisir, dengan adanya sabuk hijau (greenbelt) tanaman mangrove.
Menurut Hasran Hadi, penataan tanaman mangrove di kawasan pesisir juga memiliki fungsi yang beragam. Sebagai kawasan yang dikelola sebagai tempat budi daya kolam tambak udang vaname, windu serta ikan bandeng, keberadaan mangrove ikut menjaga tambak dari abrasi.
Tanaman mangrove serta tanaman lain di pesisir pantai tersebut, juga ikut menjaga terjangan angin laut yang bisa menyebabkan kerusakan, dan bisa menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat nelayan.
“Bagi nelayan tangkap yang menggantungkan sumber penghasilan dari melaut, bisa mencari penghasilan dari menangkap kepiting bakau serta udang di lingkungan hutan mangrove,” beber Hasran Hadi.
Selain untuk konservasi, sebut Hasran Hadi, mangrove juga akan dimanfaatkan masyarakat untuk pemberdayaan ekonomi dari sektor pariwisata. Salah satu langkah yang dilakukan oleh Tagana Lamsel serta unsur masyarakat, adalah dengan membuat akses jalan.
Akses jalan ke kawasan pesisir mangrove, dibuat agar kendaraan roda dua dan empat bisa menuju lokasi dengan mudah. Dan, tahap selanjutnya masyarakat akan membangun tracking mangrove.
Penataan kawasan pantai mangrove di wilayah Desa Bandaragung, sebut Hasran Hadi, terintegrasi dengan kampung siaga bencana yang sudah dibentuk.
Menurutnya, kampung siaga bencana menjadi cara untuk mengurangi risiko bencana di kawasan pesisir pantai. Pelatihan dan sosialisasi penanganan bencana lengkap dengan peralatan kesiapsiagaan bencana, telah diberikan di wilayah Bandaragung.
Pencegahan penyebab bencana, salah satunya dilakukan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga mangrove.
Guntur, petugas Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, menyebut pengelolaan mangrove menjadi kegiatan positif yang harus dilakukan.
Sebab, salah satu kawasan ekosistem mangrove di Lamsel berada di kecamatan Sragi. Mangrove menjadi salah satu solusi untuk mengatasi berbagai jenis masalah lingkungan, terutama untuk kerusakan di sekitar pesisir pantai.
Penataan tanaman mangrove di kawasan pantai juga berpotensi menjadikan suasana pantai lebih indah, sehingga bisa menjadi objek wisata.
Secara lebih luas, kata Guntur, menjaga mangrove di kawasan pesisir bisa menjaga kualitas air dan udara. Nelayan budi daya tambak udang yang memanfaatkan air dari saluran air, akan mendapatkan air bersih dari areal tanaman mangrove.
Tanaman mangrove juga ikut membantu masyarakat di kawasan pesisir mendapatkan iklim dan cuaca yang baik, karena tanaman bakau menyerap polusi yang dikeluarkan oleh kendaraan maupun kapal laut.
“Bentang alam pantai timur yang berlumpur sangat cocok untuk tumbuhnya mangrove, sehingga harus dikembangkan serta dijaga,” terang Guntur.
Kesadaran untuk menjaga hutan mangrove kawasan pesisir timur Lamsel, diakui Guntur juga terus meningkat. Dukungan dari pemerintah akan dilakukan dengan memberikan bibit mangrove untuk ditanam.
Sebab, bibit mangrove saat ini mulai banyak dikembangkan di wilayah Kecamatan Labuhan Maringgai dan Pasir Sakti Lampung Timur, yang berada satu jalur pantai dengan wilayah pesisir Lampung Selatan.