SMPN 3 Waigete Rubuh, Tunggu Kepedulian Pemerintah

Editor: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Menyaksikan kondisi sekolah SMPN3 Waigete yang sangat tidak layak tentu semua orang merasa miris. Sekolah yang berada di pelosok serta menyandang status negeri ini, berada di Dusun Klahit, Desa Watudiran, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka.

“Awalnya tanggal 14 Februari 2019 ketika kondisi di ruangan kelas sudah mulai mengalami kerusakan pihak sekolah sudah membuat laporan. Kami melaporkan kepada Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Sikka, BPBD Sikka, DPRD Sikka, serta Dinas Sosial Sikka,” sebut Hendrikus Seda, Kepala Sekolah SMPN 3 Waigete, Minggu (24/3/2019).

Dikatakan Hendrik, sapaannya, meski sudah dilaporkan, tapi tidak ada tanggapan dari pemerintah. Bahkan melihat kondisi sekolah pun tidak dilakukan dinas dan pejabat pemerintah yang berwenang hingga kondisi sekolah akhirnya rubuh.

Kepala sekolah SMPN 3 Waigete Hendrikus Seda. Foto: Ebed de Rosary

“Tanggal 16 sampai 19 Maret terjadi lagi angin kencang sehingga kerusakan sekolah semakin parah. Dua ruang kelas dan sebuah ruang guru rubuh diterpa angin kencang,” terangnya.

Melihat kondisi ini, kata Hendrik, pihaknya tidak ingin agar pendidikan anak-anak terlantar. Anak didik tidak boleh dirugikan dalam sisi mendapatkan pelajaran sehingga dua ruang kelas yang rusak tersebut, muridnya digabung dengan dua ruang kelas lainnya di bagian belakang.

“Dengan demikian kelas 7 dan 8 yang sebelumnya masing-masing memiliki dua ruang kelas digabung menjadi satu ruang kelas saja. Siswa pun harus belajar bersama dalam satu ruang kelas yang sempit,” ujarnya.

Jadwal mengajar guru dan jam pelajaran pun diubah untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Dengan adanya penggabungan kelas, kata Hendrik, pergerakan siswa tidak terlalu bebas, duduk pun harus berdempetan.

“Para guru kesulitan dalam membawakan pelajaran sebab anak didik kadang terlalu ribut dan sering membuat kegaduhan. Guru mau menenangkan siswanya cukup sulit sebab jumlah siswa banyak,” tuturnya.

Hendrik berharap, ada bantuan dana dari pemerintah untuk membangun kembali ruang kelas SMPN 3 Waigete agar bisa lebih layak. Apalagi sekolah ini berstatus sekolah negeri sehingga menjadi kewajiban pemerintah untuk memperhatikan.

“Tahun ini katanya ada dana untuk pembangunan tiga ruang kelas. Selain itu juga, katanya ada dana untuk pengadaan mebel seperti kursi dan meja di setiap ruang kelas tersebut,” ungkapnya.

Agung Kristi Yansen, siswa kelas 8A SMPN 3 Waigete (13) mengaku, dengan kondisi sekolah yang rusak dirinya merasa tidak nyaman belajar. Sebelum ada kerusakan dalam ruang kelasnya hanya sekitar 20 siswa saja tapi kini menjadi 40 siswa.

“Tempatnya jadi terlalu sempit sehingga kami duduk berdesak-desakan. Saya merasa tidak nyaman belajar apalagi suasana di ruang kelas sering gaduh sehingga sulit konsentrasi dalam belajar,” ucapnya.

Agung mengaku, setiap pagi dan sore harus berjalan kaki dari rumah ke sekolah atau sebaliknya. Jam 06.00 WITA dirinya bersama teman-teman sudah berjalan kaki menuju sekolah. Minimal waktu 30 menit mereka sudah tiba di sekolah.

“Kami minta agar sekolah kami cepat dibangun lagi. Supaya kami bisa belajar dengan tenang. Kalau terlalu banyak orang dalam satu kelas, pasti suasananya selalu ribut,” tuturnya.

Lihat juga...