Seniman Pangan di Bekasi Fokus Bina Petani Muda
Editor: Koko Triarko
BEKASI – Sekolah Seniman Pangan (SSP) di Kota Bekasi, Jawa Barat, fokus memajukan generasi muda untuk menjadi petani creatif farm (pertanian kreatif), dengan menggarap lahan hingga menjadi produktif. Seniman Pangan mengajarkan banyak hal tentang pertanian, mulai dari pembibitan, penanaman, pemupukan, pemanenan, hingga pembuatan produk siap pakai.
“Seniman Pangan fokus untuk petani muda, mereka bisa belajar bertani, baik dalam jangka waktu sebentar atau pun jangka waktu panjang selama dua tahun,” kata Kepala Sekolah Seniman Pangan, Maximilian Gelinek, Senin (4/3/2019).

Menurut Maximilian Gelinek, di Seniman Pangan para petani muda akan diajarkan tata cara berkebun dengan baik, kemudian pengolahan hasil pertanian, bahkan sampai ke cara packing hasil pengolahan, setelah itu cara pemasaran, baik melalui online ataupun langsung ke konsumen.
“Semua siklus mulai dari berkebun sampai berjualan, akan diajarkan,” tandasnya, yang sudah lama menetap di Kota Bekasi ini.
Untuk diketahui, Seniman Pangan selain memiliki tempat pengolahan hasil dari perkebunan, juga ada kafe khusus menjual hasil olahan dari perkebunan, yang terletak di kompleks Vida Bekasi, di Bantargebang, Kota Bekasi Jawa Barat. Tempat tersebut memiliki lahan pertanian kurang lebih tiga hektare, yang ditanami sekira 120 jenis tanaman lebih.
Berbagai jenis tanaman di lahan Seniman Alam, meliputi tanaman bunga yang bisa dimakan, sorgum sebagai pengganti nasi, dan tanaman memiliki manfaat untuk obat.
Dia mencontohkan, seperti tanaman bunga telang, bisa dipanen setiap hari dan dikeringkan, lalu dikemas dan dijual online atau offline.
“Kita lebih fokus kepada edukasi soft skill, melatih kedisiplinan petani muda, mulai dari waktu tanam sampai selesai secara kontinyu. Karena mengubah mindset perlu waktu,” paparnya, mengatakan apa yang dipanen dari kebun maka akan langsung dilakukan pengolahan.
Dalam pertanian yang diajarkan sama sekali tidak menggunakan bahan kimia. Salah satu sistem yang diterapkan dengan membuat kompos sendiri.
Dalam kesempatan tersebut, Maximilian Gelinek juga menyebut dalam waktu dekat Seniman Pangan, Bekasi akan melakukan pemeliharaan hewan ternak, seperti ayam kampung, bebek dan kambing.
“Semua hewan ternak tersebut akan langsung diolah, dan di-packing sebagai produk untuk dipasarkan,” tegasnya.
Sekolah Seniman Pangan dibuka gratis bagi yang berminat, tetapi diutamakan bagi kalangan muda dengan maksimal umur 35 tahun. Dia menyebutkan, di SSP bukan gratis, tetapi murid yang bersekolah akan ikut membantu di kebun dengan sistem lebih ke bagi hasil.
Mereka yang belajar, akan mendapat kesempatan untuk belajar dan berkembang tanpa bayar, tetapi jika ada yang malas tidak akan mendapat apa pun.
“Persyaratan umur paling maksimal 35 tahun, dan diutamakan orang yang memiliki keahlian di bidang pertanian organik. Sekolah Seniman Pangan adalah di bawah Javara,” jelasnya.
SSP setidaknya menjadi tempat tujuan kunjungan mahasiswa dari berbagai negaram seperti Singapura, Malaysia dan lainnya, untuk melihat langsung cara pengolahan pangan, mulai dari tumbuh sampai ke packing. Mereka akan mendapat penjelasan tata cara penanaman dan manfaat dari olahan pangan yang diberikan.