Kapolda Jateng: Solo dan Kedu Paling Rawan Konflik
Editor: Koko Triarko
PURWOKERTO – Kapolda Jawa Tengah, Inspektur Jenderal Polisi Condro Kirono, menyebut wilayah Solo dan Kedu sejauh ini merupakan daerah paling rawan konflik antarpendukung dalam pemilu tahun ini. Mengingat intensitas kegiatan politik di Solo dan Kedu cukup tinggi dan terkadang terjadi kegiatan antarpendukung secara bersamaan.
ʺHal ini yang harus kita waspadai, kegiatan dalam waktu yang bersamaan dan lokasi berdekatan, jangan sampai kedua kubu saling bersinggungan, sehingga harus diatur sedemikian rupa jadwal kegiatan politik di wilayah tersebut,ʺ terang Kapolda Jateng, usai menghadiri penutupan pendidikan, pelantikan dan pengambilan sumpah siswa Diktuk Bintara di Sekolah Polisi Negara (SPN) Purwokerto, Senin (4/3/2019).

Untuk mengantisipasi berbagai hal, pengamanan di dua wilayah tersebut akan ditambah. Termasuk dengan mengerahkan para bintara POLRI yang baru dilantik. Identifikasi persoalan di seluruh wilayah Jateng juga terus dilakukan. Terutama masalah-masalah yang sering muncul, yaitu terkait isu politik, politik identitas, money politic serta berita-berita hoaks yang berpotensi memicu konflik antarpendukung dan antarpemilih.
Kapolda Jateng menjelaskan, jumlah penduduk Jawa Tengah ada 39 juta lebih, sementara jumlah anggota POLRI ada sekitar 35.000, artinya perbandingan antara personel POLRI dengan jumlah penduduk, ada 1: 1.000 lebih. Sehingga setiap tahun ada penambahan anggota POLRI, untuk menutup kekurangan personel. Untuk tahun ini, ada penambahan 570 personel, berasal dari SPN Purwokerto sebanyak 320 orang, dan 320 dari Pusdik Banyubiru.
Para bintara ini akan ditempatkan di berbagai satuan, seperti Brimob yang kemungkinan akan ditambah satu SSK (Satuan Setingkat Kompi) atau sebanyak 100 personel. Kemudian yang senior-senior akan ditarik ke wilayah Polres yang membutuhkan.
Menurut Kapolda, para bintara ini juga sudah dibekali dan disiapkan untuk pengamanan Pemilu 2019. Dalam pendidikan selama 7 bulan, mulai Agustus 2018 hingga Maret 2019 ini, mereka mendapatkan pelajaran fungsi teknis kepolisian serta berbagai macam beladiri, seperti karate, judo serta cara pengendalian massa. Termasuk di dalamnya pengetahuan tentang IT dan cara mengatasi hoaks.
ʺTadi juga diperlihatkan bagaimana keahlian mereka dalam beladiri, dan cara menghalau demonstran, semua keterampilan tersebut sudah menunjang tugas-tugas di lapangan, termasuk dalam pengamanan pelaksanaan pemilu mendatang,ʺ terang Kapolda.