Ribuan Orang Serukan Referendum Baru di London

LONDON – Ribuan orang yang menentang penarikan Inggris dari Uni Eropa, menggelar unjuk rasa di London tengah. Massa menuntut digelarnya referendum baru.

Dinilai, krisis Brexit berisiko menenggelamkan kepemimpinan Perdana Menteri Theresa May. Setelah perdebatan tiga tahun yang berbelit-belit, hingga saat ini masih belum menentu kapan atau bahkan Brexit akan terjadi. Sementara Theresa May, berusaha merancang jalan keluar dari krisis politik terbesar dalam sedikitnya satu generasi di Inggris tersebut.

Akhir pekan lalu, May mengisyaratkan, ia mungkin tidak membawa perjanjian perpisahan dengan UE yang kalah dua kali ke parlemen. Hal itu akan meninggalkan strategi Brexit-nya dalam krisis. Media di Inggris melaporkan, adanya tekanan yang meningkat agar May mundur.

Sementara itu, Inggris dan para politisinya saat ini dalam kondisi terbelah sikapnya mengenai Brexit. Sebagian besar sepakat inilah keputusan paling strategis yang dihadapi Kerajaan Inggris sejak Perang Dunia II. Sebuah petisi untuk membatalkan Brexit, telah mendapat 4 juta tandatangan hanya dalam waktu tiga hari, setelah May mengatakan kepada publik Dia berada di pihak warga Inggris.

Dalam referendum yang diselenggarakan pada 23 Juni 2016, sebanyak 17,4 juta pemberi suara, atau 52 persen mendukung Brexit. Sementara 16,1 juta atau 48 persen menyokong tetap dalam blok UE. Namun sejak itu, para penentang Brexit mencari cara-cara untuk mengadakan referendum lagi. May telah berulang-ulang mengesampingkan keinginan mengadakan referendum baru mengenai Brexit.

May menilai, hal itu akan menimbulkan perpecahan di dalam negeri. Kondisinya akan melemahkan dukungan bagi demokrasi. Para penyokong Brexit mengatakan, referendum baru akan memicu krisis konstitusi besar di Inggris. (Ant)

Lihat juga...