Peringati Hari TBC, Dinkes DKI Resmikan Layanan Resisten Obat TBC
Editor: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Kepala Seksi Penyakit Menular, Tular Vektor, dan Zoonotik, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Murni L Naibaho, mengajak masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat mulai dari diri sendiri dengan mengutamakan upaya promotif dan preventif dalam penanggulangan Tuberkulosis (TBC).
Dia mengatakan, di tahun 2018 diketahui ada 36.122 kasus TBC dan 720 kasus TBC Resisten Obat.
“Upaya pencegahan TBC perlu terus kita optimalkan. Sebab, satu penderita TBC dengan BTA positif berpotensi penularan kepada 10 sampai 15 orang di sekitarnya,” kata Murni di RSUD Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Minggu (24/3/219).
Murni menjelaskan, sejumlah upaya telah dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta seperti, melalui diterbitkannya Pergub Nomor 28 Tahun 2018 tentang Penanggulangan Tuberkulosis, Rencana Aksi Daerah untuk Penanggulangan TBC, komitmen fasilitas kesehatan dalam pelayanan TBC sesuai standar, serta pembentukan Koalisi Organisasi Profesi dalam upaya penanggulangan TBC.
“Tahun ini kami melaksanakan kegiatan deteksi dini terduga TBC mulai 27 Februari sampai 22 Maret. Kami menargetkan ada 30 ribu warga yang memeriksakan TBC,” terangnya.
Murni mengungkapkan, bahwa lewat layanan tersebut, pihaknya mengajak masyarakat untuk hidup sehat dengan mengutamakan upaya promotif dan preventif dalam penanggulangan TBC.
Sebab, TBC dipaparkannya masih menjadi masalah kesehatan masyarakat saat ini. Indonesia katanya menduduki peringkat ketiga dengan beban TBC terbanyak setelah India dan China.
“Pemerintah Indonesia menargetkan untuk eliminasi TBC tahun 2030, dan untuk mencapai target tersebut diperlukan komitmen dari semua pihak. Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2018 telah menemukan 36.122 kasus TBC dan 720 kasus TBC Resisten Obat,” ungkapnya.
Kata Murni, pencapaian harus lebih dioptimalkan lantaran satu orang penderita TBC dengan BTA positif berpotensi menularkan TBC kepada 10 sampai 15 orang di sekitarnya. Pihaknya pun mengupayakan pencegahan TBC lewat sejumlah langkah.
Salah satunya adalah mengeluarkan kebijakan Penanggulangan Tuberkulosis melalui Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 28 tahun 2018 dan Rencana Aksi Daerah untuk Penanggulangan TBC, peningkatan fasilitas kesehatan dalam Pelayanan TBC serta pembentukan Koalisi Organisasi Profesi.
Lebih lanjut diungkapkan, rangkaian kegiatan peringatan hari TBC di DKI Jakarta dilaksanakan melalui kegiatan deteksi dini terduga TBC yang dimulai dari tanggal 27 Februari 2019 sampai dengan tanggal 22 Maret 2019 dengan target sasaran warga masyarakat di pemukiman padat, kumuh dan miskin.
Selain itu, warga masyarakat di tempat-tempat khusus seperti rutan, lapas, pondok pesantren, asrama TNI, perusahaan atau korporasi.
“Kami bersama seluruh pihak secara bersama-sama menjangkau masyarakat DKI Jakarta dalam bentuk deteksi dini terduga TBC dengan target 30.000 masyarakat Jakarta, serta memberikan edukasi dan promosi kesehatan,” jelasnya.
Tidak hanya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasar Minggu, pelayanan Tuberkulosis Resisten Obat (TBC RO) juga terdapat di sebanyak 24 RSUD seluruh Ibu Kota.
Hal tersebut sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 350 Tahun 2017 dalam upaya penanggulangan TBC untuk mencapai target Eliminasi TBC 2030.
“Kegiatan ini menjadi salah satu momen penting sebagai tonggak percepatan Eliminasi TBC di DKI Jakarta. Komitmen pemerintah dan partisipasi masyarakat menjadi kunci utama dalam upaya keberhasilan Program Penanggulangan Tuberkulosis,” jelas Murni.
“Mari Temukan TBC sebanyak-banyaknya lalu kita obati sampai sembuh guna mewujudkan DKI Jakarta Bebas TBC menuju Eliminasi TBC Tahun 2030,” tambahnya.
Diberitahukan, dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) tahun 2019 yang diperingati setiap tanggal 24 Maret setiap tahunnya, Provinsi DKI Jakarta, oleh Dinas Kesehatan menggelar acara peringatan tersebut dengan mengambil tema ‘Saatnya Indonesia Bebas TBC, Mulai dari saya’ yang dirayakan 23-24 maret 2019.
Melalui tema ini, Pemerintah DKI Jakarta mengajak masyarakat untuk hidup sehat, mulai dari diri sendiri dengan mengutamakan upaya promotif dan preventif dalam penanggulangan TBC.
Tuberkulosis (TBC) sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, baik di global maupun nasional. Untuk tingkat global Indonesia menduduki peringkat ke-3 dengan beban TBC terbanyak setelah India dan China
Pada peringatan Hari Tuberkulosis tersebut juga akan diberikan penghargaan kepada 5 (lima) sektor terkait yang telah mendukung upaya Penanggulangan TBC di DKI Jakarta antara lain dari lintas sektor, perusahaan, pondok pesantren, dari TNI/angkatan dan kepada wilayah dengan hasil deteksi dini terbanyak di masyarakat.
Kegiatan ini menjadi salah satu momen penting sebagai tonggak percepatan Eliminasi TBC di DKI Jakarta. Komitmen pemerintah dan partisipasi masyarakat menjadi kunci utama dalam upaya keberhasilan Program Penanggulangan Tuberkulosis.
Mari Temukan TBC sebanyak-banyaknya lalu kita obati sampai sembuh guna mewujudkan DKI Jakarta Bebas TBC menuju Eliminasi TBC Tahun 2030. Salam TOSS (Temukan TBC Obati Sampai Sembuh).