PascaJTTS Beroperasi, Pemilik Usaha Kuliner Alami Penurunan Omzet
Editor: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Dua pekan usai diresmikan pada Jumat, 8 Maret 2019, Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) mulai berpengaruh pada pemilik usaha kuliner dengan turunnya omzet penjualan.
Pemilik usaha kuliner terdampak penurunan omzet di antaranya berada di sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) hingga Kabupaten Lampung Tengah (Lamteng).
Lilis Maryati (39) pemilik warung pecel lele Damai menyebut, omzet menurun drastis setelah jalan tol pertama di Sumatera tersebut beroperasi.
Penurunan omzet diakuinya berkisar ratusan ribu per malam karena ia hanya berjualan sejak sore hingga dini hari. Semula ia menyebut, berjualan kuliner pecel lele di Jalinsum KM 69 Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan mengandalkan awak kendaraan yang melintas.
Awak kendaraan yang melintas di antaranya pengemudi, penumpang kendaraan bus, kendaraan pribadi serta truk. Namun sejak awal Maret ia memastikan kendaraan antarkota antar provinsi memilih memakai jalan tol.
Sejumlah kendaraan yang melintas melalui Jalan Lintas Tengah Sumatera dari Lamteng masuk ke pintu tol Terbanggi Besar. Sebaliknya kendaraan dari Jalinsum masuk melalui gerbang tol Bakauheni Utara di Kecamatan Penengahan Lamsel.
Lilis Maryati mencatat hanya kendaraan travel antarkota yang masih melintas di Jalinsum diantaranya merupakan pelanggan tetap tujuan Bandarlampung ke pelabuhan Bakauheni dan sebaliknya.

“Terasa sekali penurunan omzetnya karena semua kendaraan yang bisa menggunakan jalan tol memilih memakai tol apalagi kendaraan yang tidak harus berhenti di sejumlah titik perhentian atau pool di Jalinsum. Imbasnya terasa bagi pemilik usaha kuliner seperti saya,” terang Lilis Maryati saat ditemui Cendana News, Sabtu malam (23/3/2019).
Sebelum jalan tol beroperasi dalam semalam ia menyebut, bisa mengantongi omzet lebih dari Rp1 juta. Namun kini semenjak jalan tol beroperasi untuk mendapatkan uang ratusan ribu ia mulai kesulitan.
Salah satu harapan diakuinya merupakan kendaraan travel yang masih memiliki trayek pelabuhan Bakauheni-Terminal Rajabasa, Bandarlampung. Sejumlah travel tersebut masih bertahan melintas di Jalinsum untuk mengangkut penumpang di kota Kalianda, Penengahan dan sekitarnya.
Pada kondisi normal ia menyebut, menyediakan sekitar 200 porsi makan berupa ikan lele, ayam, bebek. Kini ia menyebut bisa menjual sekitar 100 porsi makan sudah cukup baik. Selain sejumlah pengendara yang melintas ia mengungkapkan, masih berharap pada pembeli lokal dari sejumlah wilayah di dekat Jalinsum.
Ia juga masih akan bertahan berjualan pecel lele di Jalinsum meski omzet akan berkurang sebab pengendara umumnya memilih melintas jalan tol karena masih digratiskan.
“Jika jalan tol mulai berbayar saya berharap kondisi akan lebih baik karena pengendara sebagian tetap akan memilih melintas di Jalinsum,” cetus Lilis Maryati.
Pedagang kuliner lain bernama Hamdani (40) menyebut, merasakan perbedaan sebelum dan sesudah jalan tol Sumatera beroperasi. Laki-laki yang membuka usaha warung makan nasi goreng, bubur ayam serta minuman bandrek tersebut menyebut omzet juga menurun.
Pada kondisi normal ia memastikan bisa mengantongi omzet di atas Rp1 juta namun kini hanya kisaran ratusan ribu. Kendaraan yang memilih jalan tol dari pelabuhan Bakauheni, pintu tol Kalianda membuat Jalinsum sepi.
“Siang dan malam sejak dioperasikan sudah terasa Jalinsum sepi karena masih gratis, bulan April mendatang saya harap kondisi akan normal kembali,” papar Hamdani.
Hamdani menyebut, beroperasinya jalan tol memberi pukulan telak bagi pemilik usaha kuliner. Pasalnya selama ini sejumlah rumah makan, warung makan kecil hingga restoran besar mengandalkan kerjasama dengan perusahaan pemilik jasa angkutan.
Pengemudi travel, bus dan truk masih kerap melintas di Jalinsum untuk menuju ke pelabuhan Bakauheni. Kini harapan pelanggan yang akan mampir di warung miliknya hanya warga lokal serta pengendara yang menggunakan kendaraan roda dua.
Pemilik rumah makan Lumajang di Desa Sukabaru bernama Triono bahkan menyebut, berniat pindah ke Sumatera Selatan. Ia menyebut harapan berusaha pada bidang rumah makan sudah punah setelah ditekuninya selama sepuluh tahun.
Ia menyebut bekerjasama dengan pengusaha ekspedisi yang memberi kesempatan pengemudi berhenti di rumah makan miliknya. Namun pengusaha ekspedisi yang memperhitungkan kecepatan dan efisiensi waktu memilih melintas di JTTS ruas Bakauheni-Terbanggi Besar.
Triono menyebut akan pindah di daerah Pendopo, Sumatera Selatan untuk membuka rumah makan di sana. Wilayah tersebut diakuinya berada jauh dari akses jalan tol bahkan meskipun ruas tol Lampung-Palembang dibangun.
Kendaraan yang sudah beralih menggunakan jalan tol membuat usaha rumah makan yang ditekuninya nyaris bangkrut. Sebab hasil utama rumah makan berasal dari kendaraan yang melintas di Jalinsum sebelum menyeberang ke pulau Jawa melalui pelabuhan Bakauheni.