Mengenal Khazanah Budaya NTT di TMII
Editor: Mahadeva
JAKARTA – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi alam yang mengagumkan. Keberadaanya, bisa menjadi obyek wisata unggulan.
Beberapa obyek wisata yang dikenal secara luas diantaranya Taman Nasional Komodo. Anjungan NTT di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) mengabadikan eksotisme hewan prasejarah tersebut, dengan majang dua patung komodo mengapit pintu gerbang masuk anjungan.

“Komodo ini ikon NTT. Patung komodo ditampilkan di anjungan ini mengingatkan bahwa hewan prasejarah ini merupakan tujuh keajaiban dunia,” kata Badan Penghubung Provinsi NTT dan Pengelola Anjungan NTT TMII, Agustina Magdalena Thung, kepada Cendana News, Kamis (21/3/2019).
Untuk menampilkan wajah NTT, dibangun anjungan yang menjadi etalase untuk menampilkan khazanah seni dan budaya NTT. “Anjungan ini show window, untuk mempromosikan budaya dan pariwisata khas NTT,” ujarnya.
Di anjungan, pengunjung dapat menyaksikan lima rumah adat yang memamerkan benda-benda hasil budaya masyarakat NTT. Yakni, rumah adat Sumba, Flores, Alor, dan Timor. Rumah adat Temukung, yang sudah dimodifikasi, merupakan bangunan utama anjungan NTT. Rumah adat ini milik masyarakat Flores, mengambil bentuk replika Istana Kerajaan Kupang. Aslinya rumah adat ini berbentuk panggung, beratap alang-alang dan dindingnya dari pelepah daun siwalan atau tal.
Di dalam ruangan rumah adat Temukung ditampilkan beragam pakaian adat, busana tradisional pengantin, anyaman dari daun lontar, kerajinan tempurung kelapa, alat musik tradisional, dan hasil kerajinan lainnya. Adapun di sisi kiri gerbang masuk anjungan, pengunjung dapat menyaksikan replika bangunan tradisional masyarakat Timor. Yaitu, Lopo atau lumbung padi. Lumbung padi ini terdapat di Kabupaten Timor Tengah Utara. Lumbung di anjungan NTT, asli berbentuk panggung, bertiang empat, tidak berdinding, dan tetap berbentuk setengah bulat. Diatas diberi papan bulat berbentuk roda yang berfungsi sebagai penghalang tikus masuk.
Bagian atas lumbung digunakan untuk menyimpan hasil panen, sedangkan di bawah menjadi tempat menerima tamu, tempat membicarakan masalah adat. Termasuk untuk kegiatan sehari-hari, seperti menenun. Di anjungan NTT, lopo digunakan untuk tempat istirahat pengunjung.
Di depan bangunan ini terdapat rumah adat suku raja daerah Alor. Di dalam rumah tersebut, tersaji ragam replika miniatur perahu, peralatan tradisional, kain tenun khas dan dua pasang busana adat. Busana adat Alor menggunakan motif bunga fatola sebagai lambang kesuburan. Juga motif bunga naga, sebagai lambang kebesaran atau keagungan.

Di seberang rumah adat suku Raja Alor, tepatnya di bagian depan rumah adat Flores. Pengunjung bisa menikmati keunikan rumah adat Sumba, yang dikenal dengan rumah adat Ende, sebuah rumah yang bernama Uma Mbatangu atau Uma Kalada.
Bangunan rumah adat Ende ini diresmikan Gubernur NTT, Piet Alexsander Tallo, S.H, pada 26 Nopember 2005. Bangunannya berlantai dua. Lantai dasar untuk kantor, sedangkan lantai dua sebagai ruang pameran berbagai pakaian adat motif patola, berbagai kain tenun ikat bercorak khas baik motif maupun warnanya, kerajinan anyaman tempat sirih dari pohon Gewang, dan tanduk kerbau yang disusun.
Kemudian ada busana adat, ragam tenun ikat dengan motif khas NTT, kerajinan anyaman tempat sirih dari pohon gewang, alat musik tradisional, topi trasional masyarakat Rote. Topi khasnya ini bernama Ti’i Langga atau sambrero rote. Di samping kanan rumah adat Ende, berdiri gagah patung kuda Sumba, yang terkenal sangat liar dan sulit dijinakkan. Dibelakang patung kuda Sumba, tersaji rumah adat Rote, yang disebut Umatua.
Rumah adat ini bergaya modifikasi modern dengan atapnya berbentuk sombrero rote melengkung indah. “Atap rumah adat Rote ini berbentuk topi khas masyarakat Rote,” tandas Agustina.
Di dalam ruangan rumah adat, ditampilkan ragam replika benda-benda tradisional masyarakat NTT. Seperti, alat musik sasando, ukulele, dan tambur. Sebuah patung seorang wanita Timor bermain sasando, menghiasi taman kecil yang berada di depan rumah adat Rote.

Selain itu, terdapat pula rumah adat Ngada, dari masyarakat suku Bajawa. “Rumah adat khas Bajawa ini dibangun atas inisiatif masyarakat Bajawa se-Jabodetabek. Mereka urunan bangun rumah adat ini, anjungan memfasilitasi,” ujarnya.
Anjungan NTT, setiap tahun di Februari mengadakan upacara adat Rebah, sebuah upacara adat khas masyarakat Bajawa. “Upacara adat Rebah ini, sudah menjadi kalender tahunan anjungan NTT,” tandasnya.
Provinsi NTT, memiliki ragam obyek wisata yang menarik. Selain Taman Nasional Komodo, juga ada Taman Wisata Kelimutu, Mata, Pantai Lasiana, Liang Bua Teras, Museum Maumere, Pantai Nembrala Pulau Rote, Wisata Budaya di Pulau Sumba. Selain memiliki obyek wisata yang menarik, NTT juga mempunyai kekayaan makanan khas. Seperti jagong bose, tumis bunga papaya dan daging sei.
Terkait Taman Nasional Komodo, Agustina mengaku sangat bangga dengan aset tersebut. Keberadaan hewan prasejarah tersebut, sudah melekat dengan NTT. Menjadi sebuah simbol keabadian zaman purba, yang berwujud hewan, yang eksotismenya dikagumi berbagai belahan dunia.
Pesona NTT telah diapresiasikan oleh istri Perdana Menteri Jepang, Ny. Mie Fukuda di 1977. Dalam kunjungan perdananya, Ny. Mie Fukuda menanam pohon beringin, sebagai lambang persahabatan kedua negara, Jepang dan Indonesia, dan menjadikan NTT, sebagai perekat antara keduanya.
Hadirnya anjungan NTT di TMII, menjadi sarana promosi seni dan budaya serta pariwisata NTT. Dalam upaya pelestarian budaya, Anjungan NTT, selalu bersinergi dengan TMII dengan menggelar berbagai acara. “Semua program TMII, kami terlibat didalamnya dalam upaya melestarikan dan mempromosikan budaya,” ujarnya.
TMII sebagai wahana edukasi, pelestarian seni dan budaya bangsa, yang diprakarsai ide cemerlang Ibu Negara, Ibu Tien Soeharto sangat membantu promosi NTT. Menjadi kebanggaan NTT, dapat mempromosikan budaya daerahnya di wahana miniatur Indonesia tersebut.