KKP: Sampah Plastik Miliki Peluang Ekonomi

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Peningkatan volume sampah di perairan laut akibat perilaku masyarakat, menjadi keprihatinan bagi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Muhamad Abduh Nurhidayat, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau Pulau Kecil (P4K) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), mengatakan, salah satu langkah pengurangan sampah laut yang dilakukan KKP adalah melalui program Gerakan Cinta (GITA) Laut.

Muhamad Abduh Nurhidayat, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau Pulau Kecil (P4K) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) -Foto: Henk Widi

Diungkapkan Muhamad Abduh Nurhidayat, produksi sampah plastik mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Ironisnya, dari sekitar 100 industri yang menggunakan plastik, kekurangan bahan baku dan harus mengimpor.

Hal itu menjadi peluang ekonomis dengan  melakukan daur ulang, yang selama ini masih belum dilakukan oleh sebagian masyarakat, terutama di wilayah perairan laut.

Muhamad Abduh Nuh menyebut, sesuai data, sebanyak 1,29 juta ton sampah masuk ke laut tiap tahunnya, dan 30 persennya adalah sampah plastik.

Banyaknya sampah yang masuk ke laut menjadikan kawasan wisata menjadi tidak nyaman, kematian biota perairan, seperti paus dan penyu. Dampak lainnya, sampah bisa masuk melalui ikan yang telah terkontaminasi microplatik.

Menurutnya, dukungan terhadap pengolahan sampah telah dilakukan ke sejumlah daerah, dengan memberi bantuan alat pengolah sampah.

“Salah satu gerakan yang dilakukan oleh KKP, di antaranya dengan melakukan gerakan bersih pantai dan laut, sekaligus mengumpulkan sampah plastik untuk didaur ulang, sehingga bisa dimanfaatkan,” terang Muhamad Abduh Nurhidayat, pada seminar penanganan sampah plastik rangkaian Jambore Pesisir di Bakauheni, di Dermaga Eksekutif Bakauheni, Kamis (14/3/2019).

Muhamad Abduh Nurhidayat menyebut, penyadartahuan akan potensi sampah sekaligus penanggulangan sampah di laut, harus melibatkan sejumlah unsur. Di antaranya pemerintah pusat, pegiat lingkungan, dan masyarakat setempat yang memiliki komitmen akan kebersihan lingkungan laut.

Edukasi masyarakat terkait semangat negara maritim atau bahari yang menganggap laut sebagai halama,n bukan sebagai belakang rumah.

Yadi Supriadi, peserta dari Kwartir Cabang Pandeglang Provinsi Banten -Foto: Henk Widi

Pendekatan atau metode bersifat edukatif tersebut, dilakukan dengan mengubah pola pikir, menjadikan laut sebagai tempat pembuangan atau keranjang sampah.

Upaya menjaga laut, dilakukan dengan mengurangi aktivitas membuang laut dari darat melalui sungai, atau dari aktivitas pelayaran di laut.

Sampah plastik yang terbuang ke laut bisa menjadi bentukan mikroplastik dan dimakan oleh hewan laut.

“Sampah plastik dalam bentukan mikroplastik bisa masuk ke jejaring makanan, yang akhirnya bisa mengganggu kesehatan manusia,” beber Muhamad Abduh Nurhidayat.

Meski menjadi potensi ancaman, Muhamad Abduh Nurhidayat menyebut, peluang sampah untuk dijadikan sumber keuntungan sangat besar.

Ia mencontohkan, di sejumlah wilayah sudah dibentuk koperasi usaha sampah, bank sampah, yang bisa mempunyai nilai ekonomis melalui pengelolaan yang baik dan benar. KKP juga telah melakukan pemberian bantuan alat pencacah sampah plastik menjadi butiran kecil yang bisa didaur ulang.

“KKP juga telah memberikan kapal pengangkut sampah di beberapa tempat, untuk menekan jumlah sampah yang dibuang ke laut,” beber Muhamad Abduh Nurhidayat.

Muhamad Abduh Nurhidayat juga mendorong masyarakat untuk menjaga kebersihan dan keindahan pantai. Sejumlah kegiatan terkait upaya menjaga kebersihan laut sebagai bagian dari komunitas Internasional, dilakukan dengan kegiatan Our Ocean Conference (OOC), untuk mendorong perubahan dalam pengelolaan sampah. Keberadaan sampah laut, menjadi peluang ekonomi, inovasi serta penanganan berkelanjutan.

Pengelolaan sampah tersebut juga didukung oleh sejumlah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sektor bahari.

Didi Khoididi, ketua Pokdarwis Tanjung Tuha, Bakauheni, mengaku potensi sampah laut kerap terjadi akibat aktivitas masyarakat yang membuang sampah sembarangan.

Sebagai pantai wisata paling ujung Sumatra, upaya menjaga lingkungan dilakukan dengan melakukan kegiatan pembersihan pantai dan laut.

“Melalui penyadartahuan pemanfaatan sampah plastik yang disampaikan oleh direktur P4K KKP, kami pegiat wisata sangat mendukung,” beber Didi Khoididi.

Didi Khoididi, Ketua Pokdarwis Tanjung Tuha penerima bantuan sarana treking mangrove -Foto: Henk Widi

Didi Khoididi menyebut, dukungan dari pemerintah juga telah dilakukan dengan memberikan bantuan treking mangrove. Treking mangrove tersebut selebar 1,2 meter, dan panjang 700 meter. Sejumlah sampah plastik yang dibuang di laut akan dikumpulkan, sebagian dipergunakan sebagai spot-spot menarik untuk swafoto. Sebagian sampah plastik yang dikumpulkan bahkan bisa dijual, karena memiliki nilai ekonomis tinggi.

Yadi Supriadi, dari perwakilan Kwartir Cabang Pandeglang, menyebut selama ini yang tinggal di pantai Caringin mengaku ingin mendapat pelatihan terkait pengolahan sampah plastik.

Ia berharap, selain pelatihan ia juga berharap bisa mendapatkan alat untuk daur ulang sampah. Selama ini, ia mengaku memiliki kelompok pemuda di pantai kerap mengumpulkan sampah dari sungai dominan sampah plastik, terutama botol minuman.

“Kami berharap, pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan bisa mendukung kami, sehingga ikut menjaga kebersihan laut,” beber Yadi Supriadi.

Lihat juga...