Gerimis, Umat Hindu di Ketapang Khusyuk Gelar Mecaru

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Ratusan umat Hindu Bali di Dusun Yogaloka, Desa Sumur, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel) menggelar upacara atau upakara ritual Mecaru.

Meski hujan gerimis masih mengguyur wilayah Lamsel ratusan umat terlihat khusyuk saat upakara jelang hari raya Nyepi tersebut digelar.

Hariyadi, salah satu petugas keamanan atau pecalang di desa adat atau banjar Yogaloka menyebut, upakara tersebut digelar di perempatan agung desa yang berada di tepi Jalan Lintas Pantai Timur (Jalinpantim) Sumatera.

Hariyadi menyebut, upacara atau upakara yang digelar di jalan desa sekaligus pertemuan dengan Jalipantim membuat petugas keamanan dikerahkan.

Hariyadi, salah satu dari lima petugas keamanan atau sebagai pecalang dalam kegiatan Mecaru jelang Nyepi di Dusun Yogaloka, Desa Sumur, Kecamatan Ketapang – Foto: Henk Widi

Ia menyebut pengaturan lalu lintas selain melibatkan sebanyak lima petugas keamanan atau pecalang juga melibatkan anggota Polsek Penengahan.

Ia menyebut tenda khusus hanya disiapkan pada bagian banten atau sesaji, meski hujan gerimis ritual Mecaru tetap berjalan dengak khidmat.

Ritual Mecaru disebut Haryadi digelar sebelum pelaksanaan Nyepi 1941 Saka yang tahun ini jatuh pada Kamis (7/3). Upacara Mecaru atau butha yadnya merupakan ritual untuk menetralisir serta mendapatkan keseimbangan sekaligus keharmonisan di alam semesta.

Sebanyak 150 umat Hindu dari wilayah Dusun Yogaloka dan beberapa dusun di Desa Sumur mengikuti ritual tersebut bersama keluarga sebelum menggelar Nyepi.

“Setiap desa adat atau banjar yang sebagian warganya memeluk agama Hindu akan menggelar ritual Mecaru sebagai rangkaian kegiatan Nyepi yang diperingati setiap tahun,” terang Hariyadi salah satu panitia sekaligus petugas keamanan ritual Mecaru di Dusun Yogaloka, saat ditemui Cendana News, Rabu (6/3/2019).

Ritual Mecaru disebut Hariyadi dipimpin oleh Jero Mangku Leo serta sejumlah pemangku di Pure Pusekh Kayangan Tiga. Ritual Mecaru disebutnya menjadi kegiatan menjaga hubungan keharmonisan antara sesama manusia (pawongan), manusia dengan alam semesta (palemahan) dan antara manusia dengan Sang Hyang Widhi Wase (Parahyangan).

Pada upacara Mecaru dilakukan di perempatan agung dimana umat Hindu yang hadir membawa berbagai jenis banten atau sesaji.

Kegiatan ritual Mecaru yang sebagian digelar di sepanjang Jalinpantim diakui oleh Nyoman Sukerta petugas keamanan lainnya sebagai kegiatan tahunan. Kegiatan yang digelar di perempatan agung tersebut diamankan oleh petugas keamanan untuk mengatur lalu lintas kendaraan dari arah pelabuhan Bakauheni menuju ke wilayah Kabupaten Lampung Timur.

Selain di Yogaloka, Nyoman Sukerta menyebut, kegiatan Mecaru juga serempak dilakukan di sejumlah desa diantaranya Desa Ruguk, Desa Tridharmayoga, Desa Sumbernadi serta sejumlah desa yang sebagian memeluk agama Hindu.

“Kendaraan yang melintas di sepanjang jalan lintas pantai timur Sumatera umumnya sudah paham ada ritual ini sehingga kerap mengikuti imbauan untuk berhati-hati saat melintas,” beber Nyoman Sukerta.

Lima buah ogoh-ogoh disiapkan untuk kegiatan malam Pangrupukan usai upakara Mecaru – Foto: Henk Widi

Nyoman Sukerta menyebut, sesuai Mecaru menjelang senja ritual jelang Nyepi juga dilakukan dengan malam Pangrupukan. Malam pangrupukan merupakan kegiatan perarakan ogoh-ogoh sebagai simbol penyucian alam semesta dari roh jahat.

Anggota Polsek Penengahan, Brigadir Kepala Safit Adipriyono, menyebut, berdasarkan pemberitahuan ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Ketapang ada beberapa desa yang akan menggelar perarakan ogoh-ogoh.

Bripka Safit Adipriyono menyebut, ada total sekitar 21 ogoh-ogoh yang akan diarak di sejumlah titik. Beberapa desa yang menggelar pawai ogoh ogoh di antaranya Desa Sripendowo, Desa Bangunrejo, Desa Tridharmayoga, Desa Sumber Nadi, Desa Sidoluhur, Desa Sidoluhur, Dusun Setia Dharma Desa Sumur dan Dusun Yogaloka Desa Sumur Kecamatan Ketapang.

Petugas keamanan dari desa sebagai pecalang, Polsek Penengahan serta anggota Satuan Lalu Lintas disebut Bripka Safit Adipriyono akan berjaga di sejumlah titik.

“Personel polisi ditempatkan di sejumlah titik yang akan digelar pawai ogoh-ogoh untuk memperlancar arus lalu lintas dan menjaga keamanan,” beber Bripka Safit Adipriyono.

Bripa Safit Adipriyono menyebut, sejumlah ritual keagamaan umat Hindu mendapat perhatian dari Polsek Penengahan. Sebab sejumlah desa-desa adat yang menggelar ritual Mecaru, pawai ogoh-ogoh berada di sepanjang Jalinpantim.

Selain sejak ritual Mecaru, petugas keamanan disebutnya juga akan melakukan patroli di sejumlah desa yang merayakan Nyepi pada Kamis (7/3) esok. Sejumlah desa adat yang mayoritas memeluk agama Hindu pada sejumlah akses jalan masuk kerap diberi palang bambu sehingga kendaraan roda dua dan roda empat tidak bisa melintas meski ada pecalang yang berjaga.

Lihat juga...