Dampak Panen Rendengan, Harga GKP di Lamsel Merosot

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Masa panen padi di wilayah Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) berbarengan dengan curah hujan tinggi menyebabkan proses pemanenan terhambat. Petani kesulitan karena sebagian batang roboh dan kadar air gabah kering panen (GKP) menjadi lebih tinggi.

Sutilah, salah satu petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan mengatakan, saat kondisi normal kadar air mencapai 25-30 %. Sementara saat musim hujan, meningkat menjadi 30-40 %.

Pada kondisi normal dengan kadar air 25-30 % GKP bisa dijual dengan harga Rp3.700 hingga Rp4.400 per kilogram. Pada masa panen rendengan harga bisa anjlok berkisar Rp3.500 hingga Rp3.000 per kilogram.

“Masa panen berbarengan dengan musim hujan atau rendeng kerap menyulitkan petani memanen secara manual. Sejumlah batang padi bahkan roboh menyulitkan proses pemotongan dengan sabit,” terang Sutilah saat ditemui Cendana News, Senin (18/3/2019).

Kadar air tinggi pada GKP membuat ia harus menjemur terlebih dahulu dan disimpan dalam kondisi kering. Ia lebih memilih menjual dalam bentuk beras dengan harga di pabrik mencapai Rp7.500 per kilogram.

“Selain kadar air tinggi berimbas harga GKP murah, hasil panen bisa dipergunakan untuk stok bulan puasa atau Ramadhan hingga hari raya Idul Fitri,” cetus Sutilah.

Kadar Air Padi
Sutilah (kiri) memasukkan padi yang telah dirontokkan ke karung untuk dijemur di rumah. Foto: Henk Widi

Selain bagi petani padi, masa panen bersamaan dengan curah hujan tinggi dicemaskan petani jagung. Subakir, pemilik tanaman usia 110 hari menyebut masih membiarkan sebagian jagung di lahan seluas satu hektare di pohonnya.

Ia menunggu kondisi cuaca panas untuk mengurangi kadar air. Sebagian tanaman yang sudah dipanen disimpan dalam karung menunggu proses pemipilan atau perontokan dengan mesin.

Subakir menerangkan, pada kondisi normal, biji jagung pipilan yang bagus memiliki kadar air rendah di bawah 20 %. Akibat curah hujan tinggi kadar air bisa mencapai lebih dari 30 %. Sebagai langkah pengurangan kadar air sejumlah petani melakukan proses perontokan sepekan setelah panen.

“Petani yang memiliki ruangan luas sekaligus tidak terkena hujan bisa menyimpan dengan karung. Tetapi yang tidak memiliki ruangan kerap langsung merontokkan jagung dengan mesin,” beber Subakir.

Pada panen awal Februari,  jagung pitilan yang dijual ke gudang dibeli dengan harga Rp5.800 untuk kadar air sekitar 20 %. Namun dengan kadar air yang sama saat mulai panen raya petani hanya mampu mendapatkan harga Rp4.600 pada akhir Februari dan terus turun pada angka Rp4.000 perkilogram.

“Harga diprediksi akan semakin anjlok. Dengan potensi hujan masih mengguyur wilayah Lamsel, mengakibatkan jagung berkadar air tinggi saat panen,” sebutnya.

Lihat juga...