Siswa MI di Desa Kunjir Masih Belajar di Tempat Seadanya

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejak bencana tsunami Selat Sunda melanda, kegiatan belajar mengajar (KBM) di Madrasah Ibtidaiyah (MI) swasta Darussalam, Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, tsunami sudah berpindah dua kali. Terakhir, sejumlah siswa harus rela belajar di garasi mobil milik salah satu warga, agar aktivitas belajar tetap berjalan.

Cepnuh, M.Pd. I, Kepala Sekolah MI Swasta Darussalam Sukaraja, menyebut pertama kali pada semester genap siswa mulai melakukan KBM di tenda darurat sejak Senin (7/1/2019) di sebuah lapangan.

Belajar di tenda selama hampir dua pekan, kata Cepnuh, membuat siswa dan guru kerap mengalami kendala. Saat hujan, sebagian tenda bocor, sementara saat panas sebagian siswa mengalami dehidrasi, sehingga kegiatan belajar tidak nyaman.

Akhirnya, sesuai kesepakatan guru dan wali murid, kegiatan belajar mengajar terpaksa dipindah ke lokasi lain yang lebih representatif. Lokasi berjarak seratus meter dari sekolah MI Swasta Darussalam.

Cepnuh, M.Pd.I, Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Darussalam, Sukaraja. Rajabasa, Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

Cepnuh menyebut, kegiatan belajar siswa ditempatkan di sebuah rumah kosong atas seizin pemilik. Pembagian ruang kelas, di antaranya kelas 3, 4, 6 dilakukan di sejumlah ruangan rumah kosong, kelas 1 dan 2 di depan teras rumah warga lain dan kelas 5 menggunakan garasi mobil yang kosong.

Meski dengan sarana terbatas, lokasi tersebut lebih nyaman dibandingkan siswa harus belajar di tenda tenda darurat.

“Selain faktor kenyamanan, kami para guru juga memperhitungkan faktor kesehatan, karena siswa mengeluhkan dehidrasi setelah belajar beberapa lama di tenda, hingga akhirnya kegiatan belajar mengajar kami pindah ke lokasi lain,” terang Cepnuh, saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (7/2/2019).

Pada kegiatan belajar mengajar di garasi mobil, teras dan ruangan rumah, para siswa memanfaatkan meja belajar mini bantuan dari donatur. Papan untuk kegiatan belajar menggunakan white board, dan lantai diberi alas terpal untuk tempat duduk siswa dan guru.

Sebanyak 12 tenaga guru mengajar 136 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6, menggunakan lokasi seadanya. Kegiatan belajar mengajar tersebut diakui Cepnuh akan dilakukan hingga nanti sekolah direhab oleh Kementerian Agama.

Selama belajar di lokasi darurat, Cepnuh juga menyebut waktu belajar siswa tidak sepenuhnya sama dengan saat di sekolah. Kondisi ruangan yang terbatas, membuat siswa yang biasanya dalam satu jam pelajaran membutuhkan waktu 45 menit, dipersingkat menjadi 35 menit.

Waktu belajar yang fleksibel itu diterapkan, menyesuaikan kondisi tempat belajar yang terbatas, dengan fasilitas belajar yang belum memadai seperti saat berada di sekolah.

Rencananya, Sekolah MI Swasta Darussalam yang rusak akibat tsunami akan diperbaiki sementara, agar bisa digunakan kembali. Sekolah yang berada di tepi pantai Desa Sukaraja tersebut, mengalami kerusakan sekitar 50 persen, dengan kondisi ruang kelas rusak berat.

Selain sejumlah ruang kelas yang hancur, beberapa dokumen siswa yang ada di ruang guru, rusak akibat terendam air saat tsunami melanda wilayah tersebut.

“Kami juga sedang merencanakan opsi untuk relokasi, karena sekolah berada di zona tidak aman di bibir pantai, namun masih mencari lokasi tepat serta dana,” beber Cepnuh.

Rizki Sauli, siswa kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah Darussalam. -Foto: Henk Widi

Sebelum kejadian tsunami, diakuinya siswa juga sudah belajar dalam suasana keterbatasan. Sejumlah ruang kelas harus disekat, di antaranya kelas 1 dan kelas 5, kelas 2 dan 4 belajar dalam satu ruangan, dan kelas 3 dan kelas 6 masih belajar dalam ruangan tanpa sekat.

Ia berharap, pada proses perehaban selanjutnya bisa dilakukan penambahan ruang belajar, agar siswa tidak belajar di ruangan bersekat.

Rizki Sauli, salah satu siswa kelas 5 MI Swasta Darussalam, menyebut usai tsunami ia dan kawan-kawannya harus melakukan kegiatan belajar berpindah tempat.

Menurutnya, lokasi kedua yang menempati garasi mobil lebih nyaman daripada lokasi belajar di tenda yang panas. Meski belajar di garasi mobil, ia tetap semangat belajar. Kondisi sekolah yang rusak akibat tsunami, tidak memungkinkan untuk belajar, sebelum sekolah tersebut diperbaiki.

Lihat juga...