Ekspor Perikanan Malut Meningkat
TERNATE – Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Kota Ternate, Maluku Utara, mencatat ekspor perikanan Malut mengalami peningkatan, terutama di lima negara tujuan. Kepala BKIPM Kota Ternate, Abdul Kadir di Ternate, mengatakan, untuk nilai ekspor produk ikan nonhidup yang pada 2017 sebesar Rp3,1 miliar, per akhir 2018 melonjak hingga mencapai Rp18,5 miliar.
Hasil perikanan ini diekspor ke Singapura, Vietnam, Korea Selatan, Jepang dan Amerika Serikat. Jenis ikan yang diekspor ke lima negara tersebut, antara lain ikan tuna mencapai 26.000 kg, frozen yellowfin tuna 72.362 kg, jenis cakalang, tongkol dan kembung mencapai 61.480 kg.
Abdul Kadir mengatakan, untuk negara tujuan ekspor tertinggi adalah Vietnam sebesar 286.485 kg, disusul Jepang 89.000 kg dan Amerika Serikat 26.000 kg.
“Kami mememiliki kewenangan untuk membuat sertifikasi hasil perikanan yang akan diekspor ke berbagai negara, sehingga Malut harus memiliki industri perikanan yang bermutu untuk ekspor,” katanya, Minggu (24/2/2019).
Untuk mendukung pengembangan ekspor perikanan, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Malut akan membangun sentra produksi perikanan, untuk menjadikan Sofifi sebagai pusat pengembangan industri perikanan di Malut.
Menurut Kepala Dinas DKP Malut, Buyung Radiloen, pihaknya akan membangun konektivitas di antara pusat-pusat produksi perikanan berbagai kabupaten/kota bisa tertampung di Sofifi, setelah itu dilakukan ekspor komoditi hasil perikanan milik nelayan tersebut.
Enam daerah itu adalah Kabupaten Halmahera Barat, Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Halmahera Utara, Halmahera Selatan, dan Kota Tidore Kepulauan.
Buyung mengatakan, Pemprov Malut saat ini telah menyiapkan rencana induk pembangunan sentral industri perikanan di Sofifi, untuk dapat menampung hasil laut tersebut.
“DKP Malut cenderung mendorong Sofifi sebagai kawasan pengembangan industri perikanan, juga Morotai tetap sebagai pintu keluar produksi hasil perikanan, dan ini karena Malut memiliki luas laut yang cukup besar, namun yang menjadi kendala kita adalah bagaimana membangun konektivitas antara kabupaten/kota di Provinsi ini,” ujarnya. (Ant)