BPBD NTT Berharap Upaya Pencegahan Banjir Lebih Diutamakan

Ilustrasi - Banjir - Dok: CDN

KUPANG – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur(NTT), Tini Tadeus, mengemukakan dampak bencana banjir yang terjadi dalam kurun waktu Desember 2018 hingga Januari 2019, lebih dirasakan warga Kabupaten Sikka, Pulau Flores.

“Sejumlah daerah di NTT memang terdampak banjir selama kurun waktu itu. Namun, lebih dominan dirasakan warga di Kabupaten Sikka,” katanya, di Kupang, Jumat (8/2/2019).

Pihaknya mencatat, bencana banjir bandang yang terjadi pada 27 Desember 2018 di Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, telah merendam sedikitnya 45 rumah warga.

Selain itu, banjir juga menyebabkan amblasnya dua jembatan di Kali Dagamage dengan luas masing-masing sekitar 30 meter persegi. Bahkan, amblasnya jembatan ini membuat arus transportasi di jalur Pantai Utara Pulau Flores yang menghubungkan tiga kabupaten, yakni Sikka, Ende, dan Nagekeo,macet total.

“Penyebab banjir ini, karena intensitas hujan yang tinggi sehingga membuat air sungai naik dan meluap,” katanya.

Ia mengatakan, sejumlah daerah lain di provinsi berbasiskan kepulauan itu juga terdampak banjir dalam kurun waktu yang sama, seperti robohnya satu jembatan di Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu.

Banjir juga terjadi di Kabupaten Timor Tengah Utara, yang mengakibatkan sekitar 11 rumah warga terendam dan kerusakan dua unit deuker.

“Namun kalau dilihat dari dampaknya lebih luas yang terjadi di Kabupaten Sikka,” katanya.

Tini mengatakan, dampak banjir tersebut sudah ditangani masing-masing pemerintah daerah. Namun, ia berharap ke depan lebih diutamakan pada upaya pencegahan.

“Seperti banjir yang terjadi akibat air sungai meluap ini perlu ada intervensi pembangunan infrastruktur pendukung untuk mengurangi resiko banjir ketika terjadi hujan lebat,” katanya. (Ant)

Lihat juga...