Alumni STFK Ledalero Maumere Tersebar di Berbagai Negara
Editor: Koko Triarko
MAUMERE – Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero Maumere, merupakan salah satu sekolah tinggi filsafat yang berkualitas dan telah menghasilkan 5.800 alumni selama hampir 50 tahun berdiri.
“Memasuki usia emas pada 8 September 2019 mendatang, skeolah kami telah menghasilkan berbagai alumni yang tersebar di berbagai negara di dunia,” kata Ketua STFK Ledalero Maumere, Pater Otto Gusti Madung, SVD., Kamis (7/2/2019).
Menurut Pater Otto, jumlah alumni tersebut, 19 orang menjadi Uskup, 1.822 orang Imam, sementara sisanya bekerja di berbagai bidang. Sebanyak 500 lebih imam saat ini berkarya di berbagai negara di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia.

“Saat ini, mahasiswa yang berkualiah di STFK Ledalero sebanyak 1.063 orang, dengan rincian 930 orang mahasiswa Strata Satu Filsafat dan 133 orang Pasca Sarjana Teologi Kontekstual,” jelasnya.
Bila dilihat dari pekerjaan para alumni, kata Pater Otto, sebanyak 68,5 persen tidak menjadi biarawan dan memilih sebagai awam dan bekerja di berbagai bidang kehidupan. Dengan begitu, sekolah ini bukan panti calon imam, tapi panti para cendekiawan.
“Memasuki usia emas 50 tahun, kami sedang menyusun rencana strategis jangka panjang hingga 2029, dengan judul dari sekolah tinggi menuju universitas. Untuk itu, dalam waktu dua tahun ke depan, kami akan membuka beberapa program studi,” ungkapnya.
Program studi yang akan dibuka, lanjut Pater Otto, yakni program studi Pendidikan Keagamaan Katolik,Magister Filsafat dan Bahasa Inggris.
Untuk itu, pihaknya membutuhkan pembangunan infrastruktur baru, sehingga membutuhkan dukungan dari pemerintah.
Johnny G. Plate, anggota DPR RI, dalam kuliah umum mengenai ekonomi kerakyatan di kampus ini, memberikan apresiasi atas berbagai pemikiran dan langkah yang dilakukan sekolah ini, untuk membangun bangsa dan negara.
“Saya memberi apresiasi atas berbagai sumbangsih sekolah ini dalam membangun bangsa dan negara, lewat berbagai pemikiran dan langkah-langkah yang dilakukan,” ungkapnya.
Menurut Jhonny, dalam era digital dan global saat ini, para imam mesti memiliki terobosan dalam pengembangan ekonomi produktif. Juga memiliki keahlian manajemen industri serta bidang lainnya yang langsung bersentuhan dengan ekonomi kerakyatan.
“Dengan jumlah mahasiswa ribuan dan menetap di asrama, tentunya setiap hari harus membutuhkan dana besar, membeli berbagai kebutuhan makan dan minum. Alangkah lebih baik, kalau bisa membuat usaha sendiri seperti pertanian dan peternakan,” pintanya.
Johnny menjelaskan, dulu para misionaris memiliki berbagai keahlian khusus dan bisa bermanfaat dalam membantu masyarakat. Mereka juga terlibat dalam mendirikan berbagai sekolah, termasuk di bidang kesehatan.
“Negara membutuhkan peran serta berbagai pihak dalam memajukan perekonomian bangsa, melalui berbagai kegiatan ekonomi produktif. Tentunya, gerakan ini juga yang harus mulai diterapkan dan diajarkan di kampus terutama jiwa wirausaha,” pungkasnya.