KEBUMEN — Hujan yang terus mengguyur wilayah Kebumen membuat ribuan hektare sawah tergenang. Sebanyak 1.820 hektare lahan yang tersebar pada 10 kecamatan dan 61 desa tersebut mengalami puso.

Banjir tersebut akibat beberapa tanggul jebol, salah satunya tanggul di Desa Tebakyang, Kecamatan Adimulyo. Luapan air sungai mengenangi tanaman yang masih berusia muda, hingga membusuk dan mati.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kebumen, Puji Rahayu mengatakan, ada 8.078 hektare sawah yang tergenang saat hujan deras, mulai akhir bulan Januari hingga Februari. Mereka tersebar di 214 desa yang berada di 21 kecamatan.
ʺTergenang hingga beberapa hari sehingga membusuk dan puso. Petani terpaksa harus menanam lagi dengan bibit baru. Sekarang masih menunggu air surut terlebih dahulu,ʺ kata Puji Rahayu, Jumat (8/2/2019).
Disinggung tentang bantuan untuk para petani , Puji menyatakan, sejauh ini tidak ada bantuan bibit. Begitu pula dengan asuransi, sebab sebagian besar sawah yang terendam masih dalam proses pendataan untuk diikutkan dalam asuransi.
ʺKalau bantuan dari pemerintah, bentuknya ya berupa premi asuransi pertanian. Wilayah tersebut sekarang masih dalam proses pendataan, sehingga belum ada bantuan yang bisa disalurkan,ʺ terangnya.
Sebagian besar area sawah tersebut merupakan tadah hujan yang rawan banjir saat musim penghujan. Mulai dari Kecamatan Sruweng, Kuwarasan, Padureso, Alian, Gombong, Karanganyar, Karanggayam, Rowokele, Ayah dan lain-lain.
Selain itu, ada tiga sungai besar yang kerap menyumbang banjir, yaitu Sungai Karanganyar di Kecamatan Adimulyo, Sungai Kedung Bener dan Sungai Kemit.
ʺYang terjadi ini rata- rata banjir genangan, sehingga dampaknya sangat besar bagi pertanian,ʺ kata Puji Rahayu.
Terkait stok padi, akibat ribuan sawah puso ini, menurut Puji, masih teratasi karena Kebumen mempunyai beras cadangan dari kegiatan ketahanan pangan.