Temu Warga dan Titiek Soeharto, Pelaku UKM Keluhkan Tingginya Pajak
Editor: Koko Triarko
YOGYAKARTA – Sejumlah pelaku usaha di Dusun Kuton, Sendangtirto, Berbah, Sleman, mengeluhkan kebijakan pemerintah saat ini yang menerapkan pungutan pajak terlalu tinggi terhadap Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM). Kebijakan pemerintah tersebut dinilai sangat merugikan, karena akan mematikan usaha milik warga.
“Kita sebagai pelaku usaha, dirugikan dengan kebijakan pungutan pajak pemerintah saat ini. Bagaimana tidak? Pajak itu telah membunuh usaha masyarakat kecil, misalnya usaha kuliner. Penyebabnya karena pungutan pajak terlalu tinggi,” ujar Feri, salah seorang warga pelaku usaha, dalam Kegiatan Temu Warga bersama Titiek Soeharto, di Dusun Kuton, Sendangtirto, Berbah, Sleman, Minggu (6/1/2019).

Di hadapan Putri Presiden Soeharto itu, Feri mengeluhkan telah terjadi ketidakadilan yang dilakukan pemerintah saat ini. Pasalnya, adanya pungutan pajak yang sangat tinggi membuat sejumlah usaha kecil milik warga masyarakat menjadi tidak dapat berkembang.
“Bagaimana kita bisa berkembang, jika pungutan pajak mencapai 10 persen dari pendapatan kotor? Masak segitu banyak? Sebab, jika kita punya usaha dengan pendapatan kotor Rp30 juta, itu pendapatan bersih hanya sekitar Rp5 juta. Untuk gaji karyawan saja kita tekor. Terus terang kita ingin perubahan, dan mencoba era pemerintahan baru,” tuturnya.
Menanggapi keluhan warga tersebut, Titiek Soeharto menilai, pajak bagi UMKM sebesar 10 persen dari pendapatan kotor tentu sangat memberatkan setiap pelaku usaha. Padahal, ia menilai sektor UMKM merupakan salah satu sektor vital yang telah banyak membantu kondisi ekonomi maupun pemerintah, misalnya dalam membuka lapangan kerja baru.

“Tentu itu sangat memberatkan. Padahal, UMKM sebenarnya telah banyak membantu pemerintah dalam membuka lapangan kerja. Ini yang ingin kita perbaiki. Pak Sandi tahu betul soal ini. Ini yang ingin kita benahi. Termasuk pelaku-pelaku usaha kecil harus kita bantu dan prioritaskan,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Titiek Soeharto selaku tim pemenangan pasangan Capres-Cawapres Prabowo-Sandi, juga berkomitmen memperbaiki kondisi ekonomi bangsa. Salah satunya menyangkut terjadinya ketimpangan ekonomi antara si kaya dan si miskin di Indonesia yang semakin melebar.
“Ketimpangan (ekonomi) sekarang ini sudah terlalu besar. Ini harus kita benahi. (Setiap masyarakat) harusnya bisa sama-sama menikmati kekayaan yang ada di Indonesia,” pungkasnya.