Raup Untung dengan Bisnis Peti Jenazah
Editor: Satmoko Budi Santoso
MAUMERE – Membuat peti jenazah dan menjualnya merupakan profesi yang di tahun 1980-an hingga tahun 1990-an relatif tidak terpikirkan oleh warga di NTT. Bahkan bisa dianggap merupakan profesi yang janggal.
Setiap ada orang yang meninggal dunia, bahkan di kota sekali pun, masyarakat bergotong royong membuat tenda duka, menggali kubur hingga membuat peti jenazah. Saat itu yang menjual peti jenazah hanya di bengkel misi milik pihak keuskupan gereja Katolik.
“Setelah putus sekolah menengah, dengan modal nekad dan kemauan, saya mulai membuat peti jenazah dan menjualnya. Saya memulai usaha ini sejak 20 tahun lalu,” ungkap Leksi, Selasa (29/1/2019).
Awalnya, kata Leksi, dirinya menjalankan usaha di kota Larantuka kabupaten Flores Timur. Namun tahun 2000 dirinya hijrah ke kota Maumere kabupaten Sikka. Menurutnya, usaha di kota Maumere lebih berkembang karena penduduknya lebih banyak dan kotanya pun lebih besar.
“Sejak saat itu usaha saya terus berkembang dan saya tetap bertahan. Hingga kini membuka usaha di jalan Kimang Buleng kelurahan Kota Uneng, Maumere. Sudah banyak pesanan peti jenazah yang saya kerjakan hingga kini,” terangnya.
Dari menjual peti jenazah, Leksi bisa membiayai kehidupan keluarganya. Dirinya pun bisa membiayai pendidikan anak-anaknya dan untuk simpanan hari tua. Sudah banyak masyarakat yang mengetahui usahanya dan menjadi langganan.
“Dalam sebulan saya bisa meraup keuntungan Rp5 juta hingga Rp6 juta bahkan terkadang lebih. Tetapi saya juga memberikan keringanan kepada warga yang tidak mampu,” ungkapnya.
Kalau tidak lebih dari satu juta rupiah, tambah Leksi, dirinya pasti memberikan bantuan. Umumnya, harga sebuah peti jenazah yang dijualnya berkisar antara Rp1 juta hingga Rp1,5 juta. Dirinya ikhlas dan senang membantu setiap orang yang susah, sebab menurutnya, rejeki pasti selalu datang.
“Sekarang saya sudah terbantu dengan memiliki mesin pemotong dan sekap kayu sendiri sehingga lebih mudah dalam bekerja. Untuk membeli satu kubik kayu, dirinya harus mengeluarkan biaya Rp900 ribu,” bebernya.
Dalam sehari, untuk satu kubik kayu, dia bisa menghasilkan 2 peti jenazah. Tetapi kalau harus menambah dengan riasan dan renda pada peti, maka hanya bisa dibuat satu peti jenazah setiap harinya.
“Dulu saya pernah putus sekolah dan malang-melintang dari satu kota ke kota lain untuk mencari jalan hidup. Kini meski memiliki usaha sederhana, saya bisa menyekolahkan anak-anak dan hidup dengan tenang serta nyaman,” ungkapnya.
Leksi mengaku, dulu bersekolah di perikanan, tetapi menjalankan usaha di pembuatan peti jenazah. Meski tidak ada hubungannya, namun dirinya bersyukur karena pengalaman masa lalu menjadi tukang kayu bisa membuat memiliki usaha sendiri.