Pascatsunami, Pemulung Dulang Rupiah dari Barang Bekas

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Sejumlah pencari barang bekas atau pemulung terlihat masih terus berkeliling di wilayah terimbas bencana tsunami Lampung Selatan.

Lukman, salah satu pemulung menyebutkan, ia bersama istri dan anaknya melakukan proses pencarian barang bekas sejak awal Januari silam. Fokus area pencarian di sekitar pesisir pantai Rajabasa dan Kalianda.

“Banyak sampah plastik dan barang bernilai jual terbawa gelombang ke pantai,” sebutnya saat ditemui Cendana News di pantai Banding,kecamatan Rajabasa, Selasa (15/1/2019).

Pada kondisi normal dengan berbekal karung ia membawa motor berkeliling pesisir Rajabasa untuk mencari barang bekas. Umumnya yang didapati berupa botol plastik bekas air mineral, kertas kardus yang dibeli dari warga.

“Seusai tsunami volume sampah meningkat, terutama barang barang bekas yang bernilai jual. Dalam sehari bisa mendapatkan satu hingga dua kuintal karena saya hanya menggunakan motor,” terang Lukman.

Sejumlah warga disebut Lukman bahkan sengaja memberikan barang barang yang masih bisa dijual kepadanya. Dari hasil memulung ia mengaku sepekan bisa mendapatkan hasil sekitar Rp400ribu hingga Rp500ribu.

Berbeda dengan Lukman, pencari barang bekas lain bernama Suminah merupakan salah satu pengepul. Ia bersama sang suami sengaja membawa kendaraan bak terbuka untuk mengangkut barang bekas bernilai jual.

pemulung
Suminah (kaos putih) mengumpulkan sejumlah barang bekas bernilai jual yang dibeli dari warga paska tsunami. Foto: Henk Widi

Ia kerap bekerjasama dengan pemulung yang sebelumnya sudah berada di lokasi. Total sepanjang puluhan kilometer wilayah terdampak tsunami dari kecamatan Kalianda hingga Rajabasa dikelilingi.

Puluhan pemulung rata rata mendapatkan barang bekas seberat satu kuintal hingga dua kuintal perhari.

Selain memperoleh uang dari hasil mengumpulkan barang bekas, para pemulung  juga ikut membersihkan sampah. Meski ada pandangan sumir dan sikap curiga, pemulung yang dikoordinir olehnya sudah memiliki kesepakatan hanya mengambil barang yang sudah tidak terpakai.

“Ada pemulung yang menemukan barang berharga milik empunya rumah langsung dikembalikan, karena meski sebagai pemulung kami tetap harus menjaga sikap,” beber Suminah.

Suminah menyebut tidak ingin dianggap mencari kesempatan dalam kesempitan. Ia bahkan menyebut sebagian warga terdampak tsunami justru terbantu. Pada sepanjang jalan usai tsunami sampah berserakan mengotori jalan. Barang yang sudah rusak namun bernilai jual sebagian diambil oleh pemulung sehingga lingkungan menjadi bersih. Barang barang yang dijual pemulung sekaligus memberi peluang mengumpulkan rupiah sebagai salah satu sumber penghasilan.

Lihat juga...