Memburu Buku Langka di TMII
Editor: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Mencari buku tua dan langkah tidaklah sulit, bisa berkunjung ke ‘Dolly Syamsuddin Buku Langka TMII’.
Toko yang berada di area Desa Seni dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ini menjual buku-buku tua dan langka.
Keberadaan toko buku langka di TMII tak bisa dilepaskan dari peran Syamsuddin Efendi yang merintis cikal bakal salah satu lokasi perburuan buku tua, khususnya bertema sejarah Indonesia.
Pemilik toko Dolly Syamsuddin Buku Langka TMII, Dolly Hirawansyah, menuturkan, awalnya sang ayah yaitu Syamsuddin Efendi mengikuti bazar di samping gedung pengelola TMII. Saat bazar itu, Ibu Negara, Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto, membeli buku.

“Pas Ibu Tien mau bayar, ayah saya bilang nggak usah, Bu. Ibu Tien lantas bertanya, kenapa? Bapak saya jawab, kalau bisa saya minta tempat saja di TMII,” ucap Dolly kepada Cendana News menirukan perkataan ayahnya, kala itu.
Gayung pun bersambut. Ibu Tien memberikan tempat di Istana Anak-Anak Indonesia (AAIA) di samping Anjungan Papua.
“Alhamdulillah, bapak saya dikasih tempat oleh Ibu Tien di Istana Anak. Jadi sejak tahun 1986, ayah jualan buku langkanya di TMII,” ujar Dolly kepada Cendana News, Selasa (22/1/2019).
Dolly mengisahkan, TMII bukan tempat pertama, ayahnya berjualan buku langka. Kiprahnya sejak tahun 1974, di masa Gubernur Ali Sadikin, dengan lokasi pertama di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, dan kemudian pindah ke Pasar Senen. Hingga akhirnya di TMII sejak tahun 1986 sampai sekarang.
Sejak saat itu, jelas dia, pembeli dari berbagai kalangan selalu datang. Yakni, mulai dari mahasiswa hingga dosen, karyawan hingga pejabat negara. Banyak yang terus datang dan menjadi pelanggan tetap.
“Tahun 2006, ayah meninggal dunia dan saya yang menggantikan jualan buku langka ini. Dari Istana Anak pindah ke Desa Seni pada tahun 2013,” ujarnya.
Di toko itu, buku-buku bertumpuk di lemari kayu, lemari kaca, maupun di atas lantai, juga dalam boks kayu. Kesemua buku langka itu tertata rapi.
Dolly menyebut, yang pernah mengunjungi toko bukunya selain mahasiswa adalah pejabat negara. Seperti Wakil Ketua DPR Fadli Zon, Calon Presiden (capres) Prabowo Subianto, Siti Hediati Haryadi atau Titiek Soeharto, Guruh Soekarno Putra, istri Hatta Rajasa, dan tokoh lainnya.
Tahun 2016, jelas dia, Titiek Soeharto, bertandang ke Desa Seni TMII menghadiri Kompetisi Nasional Seni Lukis Remaja (KNSLR). Titiek Soeharto yang merupakan Ketua Yayasan Seni Rupa Indonesia menjadi juri kompetisi tersebut.
“Nah, saat itu Ibu Titiek mampir ke toko saya, beliau membeli buku tentang seni lukis. Ibu Titiek kan suka seni,” kata Dolly.
Ia mengaku bangga toko bukunya dikunjungi Titiek Soeharto. Sebagai tokoh nasional, menurutnya, Titiek Soeharto sangat mendukung keberadaan buku-buku langka agar terus dikembangkan.
“Pesan Ibu Titiek, kalau bisa buku langka ini dikembangkan. Karena toko ini kan buku-buku langka tentang sejarah Indonesia. Jadi masyarakat yang membeli bisa lebih mengenal Indonesia melalui buku langka,” ucap Dolly menirukan pesan putri keempat Presiden Soeharto, kala itu.
Tokoh lainnya adalah Prabowo Subianto juga pernah datang, langsung membeli buku langka ke toko milik Dolly. Kala itu, jelas dia, Prabowo datang dengan didampingi staf.
“Pak Prabowo pernah datang sekali ke toko buku ini. Beliau beli buku tentang strategi perang, geografi dan seni lukis. Pak Prabowo juga berpesan agar toko buku ini tetap dijaga,” ujarnya.
Sejak itu, Prabowo menjadi pelanggan setianya. Dolly mengaku, kerap mengantarkan buku langka yang dipesan Prabowo ke rumahnya di Hambalang, Jawa Barat. “Saya sudah tiga kali ke rumah Pak Prabowo di Hambalang, mengantar buku pesanan beliau,” tuturnya.
Fadli Zon juga pernah membeli buku langka tentang Indonesia, seperti sejarah, budaya dan politik. “Pak Fadli Zon, sampai sekarang pelanggan setia. Suka beli buku langka dan saya mengantar ke rumahnya,” ujarnya.
Dia mengaku, kadang-kadang dirinya yang menawarkan buku kepada pelanggan. Jika berminat, ia pun bergegas mengantarkan ke tempat pelanggan.
Selain buku tua dan langka yang usianya puluhan tahun, di toko ini juga ada kategori buku tanggung yang usianya beberapa tahun lalu, belasan tahun lampau, hingga terbitan 1980-an.
Menurutnya, penjualan buku langka tidak terpengaruh oleh perkembangan jual beli online. Meskipun dia mengaku tetap membuka jaringan online dengan Bukalapak dan Tokopedia. “Ya sebenarnya kalau bicara buku langka, online itu nggak pengaruh. Karena kan ini bukunya susah didapat,” ujarnya.
Meskipun Dolly menjual buku-buku langka juga lewat internet, tapi ia tidak memajang buku di internet. Buku kategori tanggung saja yang dia jual lewat internet.
Adapun alasan Dolly tidak memajang buku-buku langka di internet adalah karena buku tua bernilai eksklusif. “Buku langka ini kan eksklusif, jadi hanya langganan saja yang saya tawari,” tukasnya.
Alasan Donny, karena dirinya tidak ingin mengecewakan pelanggan setianya. Bahkan, buku yang benar-benar langka itu pun tidak disimpannya di toko. Ia simpan di rumah. Tapi di toko ini tetap ada pula buku-buku rilisan tahun 1940 hingga 1800-an.
Terkait pesanan, meskipun ia sudah membatasi, namun kadang tetap saja ada perebutan untuk mendapatkan buku langka tersebut di antara pelanggan.
Jika sudah begitu, ia segera memutuskan siapa yang berhak mendapatkan buku langka yang jumlahnya cuma segelintir itu. Yakni, biasanya untuk pelanggan yang pertama menghubungi Dolly.
Buku langka itu di antaranya, misalnya, buku karya Georges Eberhard Rumpt (Rumphius) berjudul ‘Herbarium Amboinense’. Buku ini bercerita tentang rempah-rempah Ambon, baru diterbitkan hampir 40 tahun kemudian setelah kematian Rumphius. Yakni antara tahun 1741-1750.
Herbarium Amboinense, terbit dalam enam volume, 1.660 halaman, memuat 700 gambar, mendeskripsikan 1.200 jenis tumbuhan. “Buku langka yang bercerita rempah-rempah Ambon ini sudah dibeli pejabat,” kata Dolly.
Ada juga buku ‘Het Adatrecht van Nederlandsch-Indië’ karya Cornelis van Vollenhoven yang menjelaskan hukum adat di Indonesia. Volume pertama buku itu terbit tahun 1918. Buku langka ini dipatok harga kisaran Rp7 juta-Rp8 juta.
Selain itu, jelas dia, komik-komik Indonesia dekade 1960-an. Seperti karya Djair Warni yang terkenal dengan komik Jaka Sembung, Ganes TH yang terkenal dengan komik ‘Si Buta dari Gua Hantu’, dan karya Teguh Santosa.
“Komik-komik ini susah dapatnya, harganya lumayan juga. Utamanya yang cetakan tahun 1960-an, ya seperti Mahabharata karya RA Kosasih yang cetakan pertama,” tukasnya.
Selain itu, lanjut dia, adalah Alquran tua dari abad 19 juga dibeli pelanggan setia. Dan juga buku tentang biografi Presiden Soeharto.
Terkait harga, dia mengatakan, buku-buku langka dijual dari kisaran ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Satu buku, ada yang dihargai Rp20 juta, Rp30 juta dan Rp40 juta.
Ada pun harga paling tinggi sebesar Rp125 juta. Yakni Alquran tulisan tangan, tahun 1800-an. “Alquran tulisan tangan ini yang beli pejabat. Saya jual sekitar 8 tahun lalu,” ujarnya.
Namun, demikian jelas dia, ada juga beberapa buku yang dijual dengan harga murah yakni kisaran Rp50- Rp100 ribu.
Ia mengaku, mendapatkan buku-buku langka dari jejaring yang dibangun lewat pameran buku dan relasi pertemanan. Ada juga kolektor buku langka yang meninggal, dan kemudian anaknya menghubungi Dolly untuk mengambil buku tersebut.
“Biasanya didapat dari pameran, relasi teman dan anak kolektor buku langka. Saya beli buku-buku itu, beli putus. Tidak ada istilah titip jual,” tandasnya.
Menurutnya, permintaan terhadap buku langka sangat tinggi. Bahkan banyak turis yang ingin membeli buku langka. Namun kesediaan bukunya sedikit, inilah kendalanya.
Meskipun banyak peminat turis, dan pasti berlimpah keuntungan, tapi Dolly selalu ingat pesan almarhum ayahnya, agar buku-buku langka tersebut tidak dijual kepada orang asing.
“Pesan bapak saya, bukunya jangan dijual ke orang asing. Soalnya kalau dijual ke orang asing, buku itu bakal dibawa ke luar negeri dan nggak akan balik ke Indonesia lagi. Kalau kita jual ke orang Indonesia kan bukunya bisa dinikmati lagi oleh keluarganya, atau masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Dolly mengaku dari penjualan buku langka dan tua itu, ia sudah bisa hidup mapan. “Alhamdulillah saya sudah punya rumah, mobil dan motor. Ini berkah buat keluarga saya,” ujar ayah dua anak ini.
Dolly bersyukur karena TMII telah memfasilitasi tempat untuk dirinya berjualan buku langka. Hingga tokonya terkenal dan banyak pelanggan.
“Kita bersyukur punya Ibu Tien. Karena kalau nggak ada Ibu Tien, nggak ada TMII, nggak ada toko buku langka di sini. Teriring doa untuk almarhumah Ibu Tien semoga ditempatkan di surga oleh Allah SWT,” ujarnya.
Dolly berharap, keberadaan toko ini lebih didukung oleh TMII, dengan mengadakan pameran buku dan seni budaya. Hal ini menurutnya, bisa menjaring pasar yang lebih besar lagi.
Apalagi toko buku langka memfokuskan menjual buku-buku tentang sejarah Indonesia.
“Kalau ada pameran buku, bisa lebih memperkenalkan Indonesia pada masyarakat luas,” tutupnya.