Warga Lamsel Manfaatkan Cincau Hijau sebagai Obat

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Zaman modern dengan ketersediaan obat di apotik dan toko obat tidak menghalangi warga untuk tetap memanfaatkan obat tradisional dari alam.

Salah satu bahan obat yang masih dipercaya berkhasiat berkat warisan leluhur dimanfaatkan oleh Suyatinah (63) warga Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel).

Sebagai pemilik kebun, ia memastikan, menanam berbagai jenis bahan obat tradisional di halaman melalui program tanaman obat keluarga (Toga).

Sejumlah tanaman toga yang ditanam di antaranya jenis jahe (Zingiber officinale), kunyit (Curcuma longa), temu lawak (Curcuma zanthorrhiza), kumis kucing (Orthosiphon stamineus), kencur (Kaempferia galanga), lengkuas (Alpinia galanga) serta cincau hijau (Cylea barbata) serta berbagai jenis tanaman obat tradisional lain.

Kesegaran daun cincau hijau rambat, kaya manfaat untuk kesehatan – Foto Henk Widi

Semenjak tinggal di Yogyakarta dan merantau ke Lampung, kekayaan tradisi dalam pemanfaatan obat tradisional, disebut Suyatinah, masih dipertahankan dengan memanfaatkan tanaman.

Salah satu tanaman kaya khasiat yang kerap dimanfaatkan adalah cincau hijau. Tanaman yang tumbuh merambat tersebut sengaja ditanam Suyatinah di kebun. Sebagian sudah tumbuh secara alami dengan sistem generatif melalui biji menyebar di tanaman pagar.

Penyangga dari bambu dan tali bahkan sengaja dibuat untuk memberi tempat merambat bagi pertumbuhan cincau hijau. Daun cincau hijau kerap dibuat menjadi jeli atau agar-agar sebagai minuman menyegarkan sekaligus obat saat keluarganya mengalami gangguan kesehatan sariawan, demam akibat panas dalam.

“Keluarga sudah turun temurun memanfaatkan khasiat tanaman obat herbal dari kebun. Gangguan kesehatan akibat perubahan cuaca seperti panas dalam, demam resep pertama dengan membuat minuman dari sari daun cincau,” terang Suyatinah yang ditemui Cendana News tengah memetik daun cincau hijau untuk dijadikan obat, Jumat (2/11/2018).

Diawali dengan proses memetik daun cincau hijau, sejak kecil Suyatinah mengaku, sudah bisa memanfaatkan tanaman cincau sebagai obat sekaligus minuman. Proses pemilihan daun yang segar dalam kondisi tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda dilakukan pada lanjaran tempat merambat.

Suyatinah menyebut, semakin kerap dipetik, tunas dan daun baru cincau hijau akan semakin berkembang. Selanjutnya daun cincau hijau akan dicuci dengan menggunakan air mengalir mempergunakan air bersih.

Waktu pemetikan pagi hari, disebut Suyatinah, sangat tepat karena embun membantu pembersihan debu pada daun. Setelah daun dibersihkan daun dihancurkan dengan proses pemerasan menggunakan tangan disertai air matang.

Suyatinah menyebut, penggunaan air matang dilakukan agar perasan cincau lebih terjamin kebersihannya. Penggunaan air matang sekaligus bisa mempercepat proses pengentalan dalam kurun waktu lima jam sehingga bisa langsung diminum.

“Perasan air cincau yang dibuat dengan kadar air sedikit akan mempercepat pengentalan. Setelah disaring jeli akan dikumpulkan dalam gelas atau cetakan,” terang Suyatinah.

Suyatinah menyebut, manfaat cincau hijau diketahuinya sangat cocok untuk penanganan gangguan kesehatan. Pada salah satu pelatihan para ibu rumah tangga untuk pemanfaatan tanaman obat keluarga, salah satu kandungan yang ada sesuai petunjuk dari tenaga medis, cincau hijau ternyata mengandung mineral berupa kalsium dan fosfor.

Sebagai tanaman dengan kandungan serat tinggi cincau juga memiliki khasiat bagi yang menjalani diet. Nutrisi kandungan cincau hijau bahkan mengandung vitamin A, Vitamin B1, vitamin C, serat makanan serta kandungan lain yang kaya manfaat.

Selama bertahun-tahun secara turun temurun, cincau hijau telah terbukti bisa meredakan panas dalam, susah buang air besar, diare, perut kembung, sariawan, radang tenggorokan, serta demam. Misalnya yang pernah dialami oleh salah satu cucu yang terjadi saat pergantian cuaca panas ke musim hujan.

Pergantian cuaca berimbas daya tahan tubuh berkurang bahkan disiasati oleh Suyatinah dengan memanfaatkan tanaman berkhasiat salah satunya cincau hijau tersebut.

“Kandungan zat dalam cincau hijau sesuai penjelasan dari tenaga medis waktu penyuluhan memang banyak. Selain itu pengalaman turun temurun cincau sebagai obat tidak mengandung efek samping,” beber Suyatinah.

Sebagai cara untuk memperoleh khasiat yang lebih cepat, Suyatinah kerap membuat perasan daun cincau menggunakan air hangat. Perasan cincau dengan cairan pekat yang sudah diperas selanjutnya akan diberi gerusan gula aren dan diaduk hingga merata.

Campuran antara perasan daun cincau, gula merah langsung diminumkan kepada sang cucu dalam kondisi hangat. Cara tersebut diakuinya dilakukan agar sang cucu bisa cepat meminum perasan daun cincau mengatasi panas dalam berimbas sariawan sehingga sang cucu enggan untuk makan.

Cara kedua yang dilakukan oleh Suyatinah disebutnya perasan cincau hijau sebagian akan dibekukan. Proses pembekuan akan tergantung oleh kadar air, komposisi air yang tepat akan mempercepat kekentalan cincau sehingga lebih cepat membeku maksimal selama empat jam.

Cincau yang dibekukan dalam cetakan khusus bisa dibuat menjadi minuman dengan campuran gula aren serta santan kelapa. Cara menikmati cincau hijau tersebut sekaligus menjadi solusi untuk anak-anak agar tidak jajan sembarangan terutama es yang bisa berimbas batuk, pilek.

“Cincau hijau yang sudah beku disimpan dalam lemari pendingin bisa tahan selama dua pekan. Bisa digunakan setiap saat dibutuhkan sebagai minuman berkhasiat obat,” tegas Suyatinah.

Lisdaryanti yang memiliki anak bernama Natan menyebut, jarang mempergunakan obat modern saat anaknya mengalami gangguan kesehatan. Sistem cekok atau memaksa anak untuk minum jamu bahkan kerap dilakukan saat anak mengalami gangguan susah makan.

Obat-obatan dari kebun diakuinya masih menjadi pilihan karena berasal dari bahan alami, segar sekaligus menjadi warisan tradisi leluhur dalam menjaga kesehatan melalui obat herbal.

Lisdaryati memberikan minuman cincau yang sudah jadi kepada anaknya yang mengalami panas dalam akibat perubahan cuaca – Foto Henk Widi

Lisdaryanti juga memastikan dengan pemanfaatan tanaman obat sekaligus mencegah pengeluaran untuk membeli obat. Sebab sebagai wanita yang pernah bekerja di apotik tersebut memastikan, komposisi sejumlah obat kerap diperoleh dari bahan alami seperti jahe, kunyit dan beras kencur.

Khasiat dari cincau hijau sebagai pengurang panas dalam dan demam bahkan bisa menyembuhkan dengan konsumsi teratur serta takaran yang tepat.

Lihat juga...